Tuesday, 27 November 2012

China Berhasil Daratkan Jet Tempur di Kapal Induk


AL China berhasil mendaratkan untuk pertama kali pesawat tempurnya di kapal induk. Kantor berita China Xinhua melaporkan Minggu (25/11), jet tempur Shenyang J-15 yang mereka produksi berdasarkan lisensi Sukhoi Su-33 dari Rusia mendarat mulus dengan teknik arresting hook di geladak kapal induk Liaoning yang juga dibangun dari basis kapal induk Rusia.

Kapal Induk Liaoning

Bagi pengamat Barat, masih diperlukan waktu bertahun-tahun lagi untuk menjadikan pasangan alut-sista ini menjadi kekuatan tempur laut yang operasional. Namun, keberhasilan ini sudah cukup menandakan bahwa China serius ingin menjaga seluruh kepentingannya di laut dari ancaman dan upaya intervensi asing.

Kepemilikan atas pangkalan udara bergerak ini menjadi legitimasi tersendiri bagi kekuatan angkatan bersenjata sebuah negara di mata dunia. Liaoning, yang sesungguhnya merupakan kapal induk Varyag yang dipugar, melakukan pelayaran perdana pada Agustus 2011 dan dinyatakan tuntas melakukan uji coba pelayaran Juli 2012 lalu setelah menyelesaikan pelayaran ke delapan.


Jet Tempur J-15

“Ada beberapa indikasi bahwa mereka (China) ingin mengembangkan kekuatan kapal induknya. Mereka ingin menyandingkan kapal induk berikut jet tempurnya ini dengan kapal-kapal perang yang lain menjadi gugus tempur atau battle group,” ujar Jonathan Marcus, koresponde pertahanan BBC, Inggris.

Kapal induk dengan geladak sepanjang 300 meter tersebut dilaporkan bisa membawa 30 jet tempur J-15. Varian Su-27 ini dibekali canard dan sayap yang bisa dilipat untuk kepraktisan stand-by di kapal induk. Jet tempur yang memiliki nama kode Flying Shark ini dirancang mampu mengusung rudal antikapal, udara ke udara, dan udara ke darat, serta bom kendali presisi. 

Keberhasilan pendaratan jet tempur di kapal induk ini praktis telah mengubah kesetimbangan kekuatan di wilayah Laut China Timur dan Laut China Selatan. Di Laut China Timur, China sedang bersitegang dengan Jepang tentang kepemilikan atas sejumlah pulau. Sementara di Laut China Selatan, negeri ini tengah berhadapan dengan sejumlah negara Asia Tenggara memperebutkan Kepulauan Spratley.



Sumber : Angkasa

TNI Tuan Rumah UNSMLC Misi PBB


Jakarta - Tentara Nasional Indonesia (TNI) menjadi tuan rumah penyelenggara United Nations Senior Mission Leader Course (UNSMLC), yang diikuti 28 pejabat tinggi negara diantaranya Kanada, Jepang, Kenya, Indonesia, Belgia, USA, Nigeria, Denmark, India dan Swiss, yang dibuka oleh Kasum TNI Marsdya TNI Daryatmo, S.IP., mewakili Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, S.E.,  di Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI Sentul, Bogor, Jawa Barat, Senin (26/11/2012). Kegiatan tersebut berlangsung mulai tanggal 26 November sampai dengan 7 Desember 2012.


Penyelenggaraan UNSMLC adalah mempersiapkan calon-calon pejabat senior di lingkungan Misi Perdamaian PBB untuk mengisi jabatan sebagai Special Representative of Secretary General (SRSG), Deputy SRSG, Force Commanders, Police Commisioners, Director of Mission Support dan Chief of Staff dari misi PBB. Adapun sasaran yang ingin dicapai adalah memberikan gambaran kepada pejabat senior dari Troops/Police Contributing Countries (T/PCCs), khususnya tentang Manajemen Operasional Misi Perdamaian PBB.
 
Panglima TNI dalam amanatnya yang dibacakan oleh Kasum TNI antara lain mengatakan,  Pemerintah Indonesia sangat menghargai kerjasama dan bantuan dalam penyelenggaraan kursus bertaraf Internasional, sebagai langkah yang sangat penting dalam merealisasikan konteks besarnya kepentingan dan komitmen bersama pada agenda perdamaian dan keamanan dunia. Terlebih lembaga penyelenggara yakni PBB, merupakan suatu lembaga Internasional yang menjadi tempat berkumpulnya negara-negara merdeka di dunia yang mencintai perdamaian kekal dan abadi, namun lebih dari itu mencintai kemerdekaan yang luhur dan bermartabat.




Lebih lanjut dikatakan, kegiatan UNSMLC merupakan sarana strategis dalam sistem peningkatan Sumber Daya Manusia PBB, yang memiliki tujuan sebagai berikut : Pertama, kursus diarahkan untuk lebih mengembangkan kemampuan para Pemimpin Senior PBB dan meningkatkan atau menambah jumlah para pemimpin terlatih, yang disiapkan untuk misi-misi operasi perdamaian PBB.

Kedua, guna memberikan pengertian dan pemahaman akan pentingnya kerjasama, koordinasi, komunikasi dan konsensus, yang terintegrasi dalam satu fungsi yang efektif dan efisien antara pemimpin suatu misi dengan sistem PBB, antar badan PBB dan masyarakat lokal.



Ketiga, memberikan para peserta kesadaran dan pemahaman tentang kemampuan dan batas kemampuan dari berbagai komponen operasi misi perdamaian PBB yang cukup kompleks.

Keempat, kursus ini diarahkan untuk memberikan para peserta pemahaman tentang peran, tugas dan tanggungjawab dari pemimpin suatu misi PBB, agar dapat memimpin para personel yang ditempatkan dalam operasi-operasi penjaga perdamaian PBB secara efektif. Terlebih para personel pada misi PBB merupakan gabungan dari suku bangsa yang memiliki prinsip berbeda, namun komit pada satu tujuan yang sama.



Sumber : Pos Kota

Monday, 26 November 2012

Pesawat TNI AU diberi pemberat antisipasi cuaca

Jakarta - Cuaca ekstrim juga berpengaruh pada TNI AU. Kecepatan angin yang melebihi batas aman dan arahnya yang berubah-ubah membahayakan keselamatan dan keamanan pesawat-pesawat terbang TNI AU di Pangkalan Udara Utama TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Belakangan kecepatan udara melebihi 30 kilometer perjam di landas parkir (apron). Mengantisipasi fenomena alam ini, Komandan Pangkalan Udara Utama TNI AU Halim Perdanakusuma, Marsekal Pertama TNI Adang Supriyadi, mengingatkan seluruh komandan skadron udara di sana untuk menambat atau memberi pemberat terhadap pesawat-pesawat terbang TNI AU itu.

Pesawat Terbang Boeing B-747 -400 di Apron Pangkalan Udara Utama TNI AU Halim Perdanakusuma. Foto : Antara / Dispenal TNI AU.

Kedua cara itu, yang dilakukan hari ini, menambat dan menambah pemberat, harus dilakukan walau terhadap pesawat berukuran besar, yaitu Boeing B-737-400 dari Skuadron Udara VIP 17. Bobot pesawat ini sebetulnya cukup berat, di atas 20.000 kilogram dalam keadaan kosong; namun mencegah lebih baik daripada menanggulangi.

Unit Meteorologi Basis Operasi Pangkalan Udara Utama TNI AU Halim Perdanakusuma juga mencatat kecepatan angin yang cukup membahayakan, sampai 50 kilometer perjam di atas landas pacu ataupun landas parkir dan sekitarnya.

Personel diingatkan agar berhati-hati saat beraktivitas di luar ruangan, mulai dari saat dalam kendaraan yang melintas ataupun sekedar berjalan kaki saja. Inidikator utama yang dijadikan patokan adalah cross-wind component.

Bisa atau tidak satu pesawat terbang lepas landas dan mendarat di banyak bandar udara ataupun pangkalan udara militer, ditentukan juga dari hasil indikasi instrumen cuaca dan meteorologi itu. Ada batas maksimal yang tidak boleh dilanggar agar keselamatan penerbangan bisa dijamin sesuai prosedur baku yang ketat.



Sumber : Antara

TNI AU dan RSAF Laksanakan Latihan di Lombok


Lombok - Empat pesawat Hawk 109/209 TNI AU dan enam pesawat F-5 Tiger Royal Singapore Air Force (RSAF) melaksanakan  latihan Combined Formation Flight/terbang formasi bersama di wilayah Lombok  dan Sumbawa, Senin (26/11).

Para Penerbang Hawk 109/209 TNI AU. Foto : Majalah Potret Indonesia

Combined Formation Flight merupakan bagian dari latihan bersama (Latma) Indopura XVII/12 antara TNI Angkatan Udara dengan RSAF. Pada kesempatan tersebut dilaksanakankan pula photo sesstion pada masing-masing pesawat serta gabungan kedua jenis pesawat.

Pada bagian kedua latihan dilaksanakan Ground Air Tactic atau taktik penyerangan ke darat oleh pesawat-pesawat TNI AU dan RSAF di wilayah Sumbawa.

Dalam Latma Indopura XVII/12, TNI AU didukung oleh pesawat Hawk 109 dan 209 dari Skadron Udara 1 Lanud Supadio Pontianak serta satu pesawat Puma SA-330 dari Skadron Udara 8 Lanud Atang Sendjaja Bogor. sedangkan RSAF didukung  pesawat F-5 Tiger dari Skadron Udara 144 Black Kite.

Secara spesifik Latma Elang Indopura ditujukan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan para penerbang kedua angkatan udara dalam melaksanakan operasi udara bersama untuk menanggulangi kemungkinan adanya gangguan keamanan di wilayah perbatasan kedua negara.

Latma Indopura pada pelaksanaannya meliputi Command Post Exercise (CPX), Air Manouver Exercise (AMX) serta bakti sosial sebagai kegiatan tambahan.



Sumber : Majalah Potret Indonesia

Kolinlamil Perkenalkan Kapal Perang Sejak Dini



Jakarta - Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) memperkenalkan Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) kepada segenap murid-murid Taman Kanak-kanak yang mengadakan kunjungan ke Kapal perang yang tengah merapat di Dermaga Mako Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta Utara, pekan lalu.

Foto : Dispen Kolonlamil

Di sela-sela tugas-tugas yang diemban KRI di jajaran Kolinlamil dalam tugas Operasi Militer Perang (OMP) ada juga tugas Operasi Militer Selain Perang (OMSP) dan salah satu kegiatan OMSP yang terlaksana di Kolinlamil diantaranya adanya kunjungan-kunjungan dari berbagai sekolah tentunya yang telah mengajukan permohonan kunjungan ke Kolinlamil.

Pangkolinlamil Laksda TNI S.M. Darojatim memberikan kesempatan kepada pihak-pihak sekolah yang telah mengajukan permohonan kunjungan. Adanya kegiatan kunjungan anak sekolah ini dimaksudkan untuk memperkenalkan Kolinlamil kepada para siswa atau anak didik secara dini mulai dari Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, maupun Sekolah Lanjutan.

Dalam kunjungannya baru-baru ini tiga sekolah taman kanak-kanak yaitu TK Al Amanah Sunter Agung, TK Trinity National Plus School Kelapa Gading serta TK Robani Jati Sampurna Kranggan Bekasi mengunjungi KRI Mentawai-959 yang dikomandani Mayor Laut (P) Hartanto yang tengah sandar di dermaga Mako Kolinlamil.

Menurut kepala sekolah TK Al Amanah Sunter Agung, Elis Aisyah Spd. 97 siswa, 15 guru dan 20 pendamping yang berkunjung ke Kapal perang Kolinlamil merupakan pengalaman yang berharga dan baru pertama bagi para anak didiknya. Sementara itu Kepala Sekolah TK Trinity National Plus School Umi Lusiani, M.A. membawa rombongan 22 siswa, 7 guru serta 7 pendamping. Sedangkan rombongan TK Robani Jati Sampurna Kranggan Bekasi dengan kepala sekolahnya Sri Wahyuni, S.Pd. yang membawa 54 siswa, 9 guru ini diterima oleh Perwira jaga KRI Mentawai Letda Laut (P) Dwi Sulistyo yang sehari-hari sebagai Kadivmuat.



Sumber : Dispen Kolinlamil

Delegasi Komisi I DPR siap masuki Gaza

Jakarta - Delegasi Komisi I DPR RI melakukan persiapan akhir untuk memasuki Gaza, kata anggota Komisi I DPR, Muhammad Najib. "Walaupun gencatan senjata antara Hammas dan Israel sudah dilakukan, tetapi sifatnya masih sementara. Karena itu, rombongan akan tetap berhati-hati sesuai saran KBRI di Kairo," ujarnya melalui pesan singkat diterima di Jakarta, Sabtu.

Menurut Najib, sebelum memasuki Gaza, rombongan Komisi I DPR akan diterima oleh Parlemen Mesir dan Liga Arab, dan masih menunggu konfirmasi untuk bertemu Presiden Mesir, Mohammed Mursi. Dia mengatakan, pertemuan itu penting dilakukan untuk mengetahui posisi politik Mesir pascarezim Presiden Husein Mubarak dan Posisi Liga Arab setelah Arab Spring terhadap Palestina.

Dokumen Foto seorang tentara Israel mengarahkan kendaraan militer saat meninggalkan wilayah perbatasan dengan sisi utara Jalur Gaza. Foto : Reuters / Suhaib Salem.

"Pertemuan itu juga untuk mendengar langsung kesepakatan damai yang terkait Palestina-Israel khususnya yang tidak tertulis," katanya. Najib mengatakan sejumlah tokoh dunia yang peduli dengan Gaza terus berdatangan dan berusaha untuk membantu agar gencatan senjata dapat permanen dalam rentang waktu panjang.

"Bagi Indonesia tidak hanya sekedar gencatan senjata yang diharapkan, tetapi perdamaian yang permanen di Gaza," katanya. Untuk itu, kata dia, rombongan Komisi I akan melanjutkan perjalanan ke Ramallah untuk bertemu dengan Presiden Palestina, Mahmoud Abbas. Rombongan akan didampingi Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Faris Mehdaw.

Menurut Najib, Komisi I DPR akan menyampaikan dua hal kepada Presiden Abbas, yakni pertama menyangkut dukungan Indonesia atas upaya Palestina untuk menjadi anggota penuh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang diajukan kembali setelah tahun lalu gagal.

"Pernyataan dukungan langsung ini penting karena Presiden Abbas ditekan dan diancam banak pihak untuk membatalkan niatnya itu," ujarnya. Kedua, Komisi I DPR juga akan mendorong persatuan Hammas dan Fatah sehingga Palestina menjadi lebih kuat berhadapan dengan Israel baik dalam diplomasi maupun di medan perang.

Najib mengatakan, Komisi I DPR mengucapkan terima kasih kepada sejumlah lembaga amal dan organisasi masyarakat yang akan mengiringi masuk Gaza untuk menyerahkan sejumlah bantuan Rakyat Indonesia secara langsung.  "Kami juga mohon doa semoga perjalanan ini berjalan lancar sampai tujuan dan semua rombongan kembali dengan selamat," katanya menambahkan.



Sumber : Antara

Sunday, 25 November 2012

LAPAN Akan Bangun Bandar Antariksa di Morotai

Serpong - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) memilih Morotai, Maluku Utara, sebagai lokasi pembangunan bandar antariksa. Morotai mengalahkan tiga calon lainnya yaitu Biak, Nias dan Enggano. Kepala LAPAN, Bambang S. Tedjasukmana mengatakan hal tersebut dalam seminar "Menyongsong 50 Tahun Kedirgantaraan Nasional" yang diadakan di Puspiptek Serpong, Selasa (21/11/2012).

Bambang mengatakan, "Kita sudah kaji Enggano, sudah periksa infrastrukturnya. Kelebihannya di Morotai punya 7 landasan yang panjangnya mencapai 3 km bekas Perang Dunia II. Selain itu kita lihat di Enggano ada potensi untuk tsunami."

Ilustrasi : Angkasa

Dari sisi sosiologis, tidak ada tanah adat di Morotai sehingga pembebasan tanah untuk kepentingan pembangunan bandar antariksa akan lebih mudah. Jumlah penduduk di Morotai juga hanya 60.000 jiwa, belum terlalu padat.

Bandar antariksa di Morotai, jika dibandingkan dengan bandar antariksa lain di dunia memiliki kelebihan. Bandar antariksa ini terletak di wilayah ekuator. Secara ekonomis, peluncuran di ekuator lebih murah.

Bambang juga mengatakan, wilayah Morotai berdekatan dengan Samudera Pasifik. Peluncuran roket bisa dilakukan secara langsung tanpa melewati negara tetangga. Hal ini memudahkan program peluncuran yang akan dilakukan.

Meski demikian, Bambang mengungkapkan, "Masih butuh waktu panjang untuk membangun bandar antariksa. Kita targetkan tahun 2025."

Sebagai langkah awal, LAPAN akan mencoba meluncurkan roket RX-550 pada tahun 2013. LAPAN juga akan merencanakan tata ruang, pembangunan launcher, pemindahan alat meteorologi serta pembangkit listrik.

Sebelumnya, LAPAN telah mengembangkan fasilitas peluncuran satelit di Pameungpeuk, Jawa Barat. Lokasi tersebut tidak bisa digunakan sebagai tempat pembangunan bandar antariksa karean terlalu padat.

Saat ini, ada 6 lokasi di Morotai yang akan dikaji sebagai lokasi bandar antariksa. Keenamnya adalah Tanjung Gurango, Tanjung Segowo, Desa Bido, Desa Mira, wilayah antara Desa Sangowo dengan Desa Daeo, Morotarai Timur dan Tanjung Sangowo dan Pulau Tabailenge.



Sumber : Kompas 

Era Kebangkitan Industri Pertahanan


Jakarta - Memiliki pertahanan yang tangguh adalah sebuah kebutuhan mendasar bagi setiap bangsa. Kemampuan pertahanan tidak saja penting dalam menjaga keselamatan bangsa, tetapi juga simbol kekuatan serta sarana untuk menggapai cita-cita, tujuan, ataupun kepentingan nasional.

Efektivitas pertahanan negara turut ditentukan juga oleh kemampuan industri pertahanan dalam memenuhi kebutuhan pengadaan dan pemeliharaan alat utama sistem senjata (alutsista) secara mandiri. Oleh sebab itu, industri pertahanan perlu dibangun melalui revitalisasi industri pertahanan.

Sjafrie Sjamsoeddin, Wamen Pertahanan RI, Sekretaris KKIP.


Setelah Presiden SBY memberikan arahan revitalisasi industri pertahanan di Kementerian Pertahanan tahun 2004, sejak saat itu mesin dari semua pemangku kepentingan segera bekerja. Kementerian Pertahanan sebagai pembuat regulasi dan kebijaksanaan pembinaan industri pertahanan, TNI sebagai pengguna, dan industri pertahanan sebagai produsen dalam negeri menyatu dalam target merevitalisasi industri pertahanan untuk membangkitkan kekuatan industri pertahanan dalam negeri.

Berbagai langkah, strategi, dan regulasi segera diambil. Pemerintah yang diperankan oleh Bappenas, Kementerian BUMN, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Pertahanan bersama TNI dan Polri serta instansi pemerintah lain sebagai pengguna, segera menerjemahkannya.

Presiden pada 2010 telah membentuk suatu badan kebijakan nasional industri pertahanan yang disebut Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP). Tugas yang diemban oleh KKIP adalah mengembangkan kemampuan industri pertahanan dalam negeri, baik alutsista maupun non-alutsista.

Sejak saat itu Indonesia sebenarnya telah memiliki visi, misi, dan strategi dasar pembangunan industri pertahanan. Apalagi pemerintah dan DPR pada 2012 menetapkan Undang-Undang Nomor 16 tentang Industri Pertahanan Negara sebagai legalisasi dan legitimasi menghidupkan dan mengembangkan industri pertahanan dalam negeri.

Industri pertahanan

Suatu negara yang kuat akan sangat dipengaruhi oleh kekuatan industri teknologi pertahanan yang mandiri. Filosofi ini penting untuk mendukung misi negara menjaga kedaulatan negara dan keutuhan wilayah.
Presiden melihat kebangkitan industri pertahanan dalam negeri dan untuk semakin mendorong tumbuhnya industri pertahanan dalam negeri, presiden bahkan menggariskan beberapa kebijakan teknis.

Pertama mewajibkan pengguna dalam negeri memakai produksi dalam negeri untuk alutsista dan non-alutsista. TNI dan Polri serta instansi pemerintah lainnya diwajibkan memakai produksi dalam negeri manakala kebutuhan tersebut dapat diproduksi oleh kita sendiri.

Kedua, manakala harus membeli dari luar negeri, maka persyaratannya adalah produksi dalam negeri belum mampu memenuhi spesifikasi teknis dan kebutuhan operasional dari pengguna yang perlu teknologi tinggi. Namun, pembelian dari luar negeri harus ditambah persyaratan transfer teknologi dan ofset dari negara pemasok kepada industri pertahanan dalam negeri.

Ketiga, pembelian dari luar negeri tidak boleh mendikte secara politik terhadap negara dalam membeli peralatan militer.


CN-235 PT DI. Foto : Iwan Hermawan.

Sebagai pembina industri pertahanan, Kemhan berkepentingan memberikan peluang kepada industri pertahanan dalam negeri untuk memasok kebutuhan. Bahkan, Kemhan mendorong industri pertahanan dalam negeri untuk bisa ekspor produk mereka ke luar negeri.

Kemampuan industri dalam negeri kita sekarang ini sudah pada tingkat teknologi menengah. Artinya, industri pertahanan kita sudah dapat membuat dan sudah digunakan oleh TNI. Sebagai contoh, alutsista darat buatan PT Pindad mulai dari pistol dan senjata serbu sampai mortir serta kendaraan tempur roda ban (panser Anoa) sudah mendukung kebutuhan TNI AD. Bahkan, produk PT Pindad itu sekarang sudah berstandardisasi PBB, demikian juga kendaraan taktis pengintainya.

Saat ini sedang berlangsung pembaruan kendaraan tempur roda rantai (tank AMX-13) yang merupakan awal membangun tank ringan. Setelah itu diharapkan kita bisa membuat sendiri tank ringan sampai berat.

Saat membeli tank berat (MBT Leopard) dari Jerman, dalam paket kontrak ada klausul transfer teknologi. Pihak Jerman menyetujui dalam pemeliharaan pascajual, artinya kita akan mendapat kesempatan melakukan didampingi pihak produsen.

Untuk alutsista udara, PT Dirgantara Indonesia kini sedang mengembangkan kerja sama produksi dengan Airbus Military untuk membangun pesawat angkut sedang CN 295. Kita sangat berkepentingan untuk meningkatkan kemampuan memproduksi pesawat angkut ringan, seperti C-212, CN 235, dan CN 295, yang bermuatan 50 penerjun.

Hal yang sama kita lakukan dalam pembuatan helikopter serbu Bell-412 dan heli Cougar 725. PT Dirgantara Indonesia diharapkan bisa memenuhi sebagian kebutuhan dari TNI dan cocok untuk operasi kemanusiaan.

Di sisi alutsista laut, kita bahkan memiliki beberapa industri pertahanan dalam negeri yang bisa diandalkan. PT PAL diandalkan untuk pembuatan kapal perang skala besar, seperti class korvet dan kapal selam. PT PAL juga didorong untuk membuat kapal perang untuk tanker.

Kita juga memiliki badan usaha milik negara yang lain, yaitu PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari. BUMN ini kita beri porsi untuk membangun Landing Ship Tank atau kapal pengangkut tank ringan dan sedang.

Industri pertahanan swasta juga sudah memberikan kontribusi besar untuk kapal patroli cepat ukuran 60 meter ke bawah, seperti Palindo, Lundin, Anugrah. Bila berkualitas, peluang yang sama juga diberikan kepada beberapa galangan swasta lain di dalam negeri. Alokasi anggaran kepada industri pertahanan cukup besar dalam rencana strategis 2010– 2014, minimal Rp 5,4 triliun.

Peluang ini sekaligus menjadi tantangan bagi industri pertahanan dalam negeri untuk meningkatkan kualitas manajemen agar mampu memenuhi persyaratan kualitas, waktu distribusi, dan harga yang bersaing. Tanpa ada profesionalisme dalam pengelolaan perusahaan dan keuangan, semua peluang yang ada ini tidak akan bisa termanfaatkan bahkan terlewat tanpa makna.

Saat ini industri pertahanan PT PAL bahkan perlu untuk merekrut tenaga terampil umur 18–20 tahun agar mereka siap digunakan dalam pembangunan kapal selam, yang diharapkan bisa kita lakukan tahun 2020.

Hal kritis dalam pembangunan industri pertahanan dalam negeri adalah pengawakan manajemen yang unggul dan kemampuan untuk mengeliminasi parasit dalam manajemen industri pertahanan dan meniadakan peran ”broker” yang berdampak pada penggelembungan biaya.

Manajemen industri pertahanan jangan pernah memberikan peluang distorsi internal dan eksternal yang hanya menimbulkan kerusakan manajemen. Aturan yang mengharuskan kita membeli langsung ke pabrikan dan menjual langsung kepada pembeli adalah cara paling tepat untuk efisiensi dan manfaat.

Bila kita mau, Indonesia pasti sanggup menjadi kekuatan regional yang didukung oleh kemampuan industri teknologi pertahanan dalam negeri.

Sjafrie Sjamsoeddin, Wakil Menteri Pertahanan RI; Sekretaris Komite Kebijakan Industri Pertahanan.



Sumber : Kompas

Pesawat Tempur dan Radar TNI AU akan semakin bertambah untuk Mempertahankan Kedaulatan NKRI


Solo - TNI AU tak lama lagi bakal menambah pesawat tempur jenis Sukhoi. Penambahan pesawat tempur tidak hanya pada jenis sukhoi, namun ada beberapa pesawat lain didatangkan ke Indonesia untuk mempertahankan kedaulatan NKRI.

Penambahan pesawat berbagai jenis dikemukakan Kepala Staf TNI AU (KSAU) Marsekal TNI Imam Sufaat, usai melantik 150 perwira baru lulusan Sekolah Pembentukan Perwira (Setukpa) TNI AU angkatan ke-15 tahun 2012, di Lanud Adi Soemarmo, Jumat (23/11).

Sukhoi - 30MK2

Menurut KSAU, ada enam pesawat Sukhoi dalam setahun atau 1,5 tahun ke depan datang ke Indonesia untuk memperkuat pertahanan udara. "Satu hingga 1,5 tahun lagi semua bisa datang. Sesuai rencana, ada percepatan kedatangan pesawat-pesawat seperti target hingga 2014," tegas Jenderal bintang empat itu. Selain Sukhoi, lanjut dia, pesawat jenis T-50 juga akan memperkuat TNI AU. Dia menjelaskan sementara ini telah datang tambahan alutsista berupa pesawat jenis Super Tucano dan C-295.

Imam juga menyinggung penambahan empat radar dalam pengadaan terakhir. Atas penambahan tersebut, sekarang ini TNI AU memiliki 20 radar. Pada 2024, ditargetkan Indonesia mempunyai 32 radar. Tingkat kebutuhan radar sebanyak itu sangat ideal bagi Indonesia yang memiliki banyak kepulauan.

Terkait personel dari kalangan perwira, Imam Sufaat menjelaskan, saat ini perwira TNI AU baru 60 persen dari jumlah ideal. Meskipun demikian, dia mengatakan presiden mengambil kebijakan tidak menambah jumlah personel hingga tahun 2014.

"Pembentukan perwira baru sekarang ini, lanjut dia, dimaksudkan untuk mengisi atau mengganti perwira yang telah purna tugas atau meninggal dunia."



Sumber : Suara Merdeka