Jakarta - TNI AL menggandeng gerakan Pramuka
untuk memperkenalkan kepada pemuda betapa kayanya potensi maritim di Indonesia. TNI
AL ingin menarik minat pemuda melalui gerakan Pramuka agar mau mempelajari laut
Indonesia.
"Kita ingin mengemas pengajaran mengenai dunia maritim dengan cara
bermain. Mengajak anggota Pramuka ini merupakan pilihan yang sangat strategis.
Gerakan Pramuka selalu memperkenalkan para pemuda pada ilmu pengetahuan dengan
cara bermain," kata Kepala Dinas Potensi Maritim TNI AL, Laksma Kingkin Suroso,
saat meluncurkan Majalah SeaKing, di Jakarta, Selasa (4/12).
Sejumlah anak sedang berada di atas Kapal Perang Republik Indonsia.
Menurut Kingkin, penerbitan majalah SeaKing merupakan bagian tak terpisahkan
dalam sosialisasi dunia bahari. Penerbitan majalah yang rencananya terbit
sebulan sekali itu adalah untuk memberikan wadah bagi para pemuda untuk
berkreasi. “Kalau dulu ada istilah 'jangan lupa daratan' karena sering
menjelajah di laut, saat ini harus dibalik menjadi 'jangan lupa lautan'’ karena
terlalu sering di darat," kata dia.
Pengetahuan kebaharian bagi pemuda, Kingkin menambahkan, sebagai salah satu
bekal untuk mempersiapkan mereka menjadi pemimpin yang berkarakter dan
menitikberatkan pada pembangunan kawasan laut. Sejumlah kegiatan kebaharian
yang saat ini dikembangkan TNI AL dan digemari pemuda adalah pelatihan selam
dan penjelajahan di laut. "Di Universitas Indonesia saja sudah ada tiga
angkatan yang belajar menyelam," ujar dia.
Pihaknya juga sudah mengembangkan kegiatam outbond laut yang menjurus pada sea
survival atau ketangguhan di laut. "Umumnya banyak mahasiswa yang jenuh
hanya berpetualang di gunung. Itu makanya kita kenalkan mereka dengan
penjelajahan laut," jelas dia.
Sementara itu, Staf Ahli Dispotmar TNI AL, Ruly Rahadian, menambahkan saat ini
TNI AL bahkan tengah menyiapkan acara jelajah laut yang diberi nama Pelayaran
Nusantara. Kegiatan pelayaran itu diikuti 1.500 anggota Pramuka se-Indonesia.
"Kita ingin membentuk mindset pemuda agar mencintai laut," ujar dia.
TNI AL juga bekerja sama dengan sejumlah instansi untuk mengemas agar pemberian
pengetahuan mengenai dunia bahari lebih bisa diterima kalangan muda, seperti
bekerja sama dengan Pusat Penelitian Institut Teknologi Bandung dan Fakultas
Seni Rupa ITB. Selain penjelajahan bahari, TNI AL juga tengah membangun
kewirausahaan berbasis sumber daya laut di setiap landasan angkatan laut di
seluruh Indonesia.
Bandung - PT Dirgantara Indonesia (Persero) melaksanakan
pembenahan diri skala besar melalui program restrukturisasi dan revitalisasi
guna menghadapi tantangan bisnis kedirgantaraan kini dan masa depan. "Pasar industri kedirgantaraan semakin
kompetitif. PT DI sebagai industri pesawat terbang kebanggaan bangsa Indonesia harus siap menghadapi tantangan itu
agar tetap eksis," kata I.P. Windu Nugroho, staf senior Divisi Komunikasi
PT DI kepada pers di Bandung,
Selasa (4/12).
Windu mengatakan jajaran PT DI menyadari upaya
menghadapi tantangan bisnis itu bukan pekerjaan mudah. Diperlukan kerja keras
dan tekad bersama seluruh komponen bangsa terkait, dukungan Pemerintah dan para
pemangku kepentingan lainnya, wacana saja tak cukup, kata Windu.Untuk menjawab tantangan, PT DI telah melakukan
Program Restrukturisasi dan Revitalisasi baik dalam hal organisasi, keuangan,
SDM, perbaikan sistem Informasi Teknologi, permesinan, dan lainnya.
Pengunjung melihat maket Pesawat N-219 yang tengah dikembangkan oleh PT. DI dan BPPT. Foto : Antara / Dhoni Setiawan.
"Restrukturisasi ini berdasarkan arahan
Pemerintah saat pelantikan manajemen baru Oktober lalu," kata Windu. Untuk program Revitalisasi, katanya, PT DI sepenuhnya
dibantu oleh para tenaga ahli dari Airbus Military sebagai mitra bisnis utama
saat ini. Sejarah panjang kerjasama PTDI dan Airbus Military dalam pembuatan
dan pengembangan pesawat terbang di Indonesia sejak 1976.
"Dengan semakin meningkatnya kepercayaan Airbus
Military terhadap kinerja PTDI, beberapa bentuk perjanjian baru telah dibuat
dan ditandatangani," kata Windu yang menambahkan Airbus telah memutuskan
pemindahan produksi pesawat C295-nya dari Sevilla di Spanyol ke Bandung.
Kerjasama PTDI-Airbus Military itu antara lain dalam
Perjanjian Kerjasama Strategis (Strategic Collaboration Agreement), Perjanjian
Beregu (Teaming Agreement), Perjanjian CN295, Perjanjian Kolaborasi Industri (Industrial
Collaboration Agreement).
Khusus program revitalisasi untuk proyek CN295,
kerjasamanya bertujuan memperluas kemampuan Industri Strategis Nasional,
ditandatangani pada 21 Desember 2011, meliputi beberapa paket pekerjaan
strategis, yaitu Rear Fuselage, Empennages, Delivery Center,
In-Service Support dan Computer Based Training.
Dari kerjasama tersebut, PT DI berharap dapat
memproduksi beberapa komponen penting dari pesawat CN295, baik yang
diperuntukan bagi customer domestik maupun luar negeri, serta pengiriman
pesawat ke customer tepat waktu. Saat ini PT DI dan Airbus Military telah menyelesaikan
Industrial Plan dan New Lay-out untuk Rear Fuselage, Empennages dan Delivery
Center.
"Diharapkan pada awal tahun 2013 Delivery Center
sebagai pusat pengiriman pesawat CN295 dapat dirampungkan pembangunannya,"
katanya. Selain dari itu, pekerjaan program revitalisasi
lainnya adalah pembenahan dengan mengubah sistem IT yang ada, semula dari
sistem Integrated Resources Planning (IRP) menjadi sistem Enterprise Resources
Planning (ERP).
Sistem ERP akan digunakan adalah SAP, yaitu sistem ERP
yang kini banyak penggunanya baik di lingkungan BUMN maupun swasta dengan
keunggulan antara lain data lebih akurat, visibilitas lebih baik, kontrol lebih
bagus serta aliran data lebih mulus dia ntara seluruh unit dan direktorat yang
ada di lingkungan perusahaan.
Tahapan implementasi berupa pembersihan data,
pengujian sistem SAP serta pelatihan bagi pemakai. Dengan terealisasinya
seluruh program revitalisasi di tubuh PTDI, diharapkan perusahaan pelat merah ini
siap menghadapi tantangan pasar yang semakin komplek dan PTDI mampu menjawab
semua itu, demikian Windu.
Sejak berdiri tahun 1976 hingga kini PTDI telah
memproduksi lebih dari 300 pesawat, baik sayap tetap (fixed wing) maupun
helikopter (rotary wing). Untuk produk Pesawat NC-212 di bawah lisensi CASA
(sekarang Airbus Military), PTDI telah diproduksi lebih dari 102 unit baik
versi sipil maupun militer.
PTDI juga telah memproduksi sebanyak 122 helikopter
NBO-105 dibawah lisensi MBB (sekarang Eurocopter Jerman). Sebagian besar
helikopter tersebut dioperasikan oleh militer Indonesia. Selain itu PTDI juga telah memproduksi helikopter
NBell-412 lebih dari 33 unit ditambah NBell-412 EP sebanyak 7 unit dibawah
lisensi Bell Helicopter Textron (USA) serta helikopter Super Puma 22 unit
dibawah lisensi Aerospatiale (sekarang Eurocopter Perancis).
Produk CN-235 dari hasil kerjasama dengan CASA Spanyol
yang dimulai sejak tahun 1979 telah menghasilkan kurang lebih 260 unit dan
telah tersebar di berbagai negara di dunia. Terbang perdana CN-235 dilakukan
pada bulan Desember 1983 dan mulai masuk pasar pada tahun 1986.
Jakarta - Indonesia telah membukakan peluang
industri pertahanan bagi perusahaan asing untuk masuk. Syaratnya,
perusahaan itu harus mengandeng perusahaan dalam negeri untuk memproduksi
peralatan pertahanan dan militer.
Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro menyatakan, kepada perusahaan
penerbitan, penelitian dan perusahaan konsultan global, Oxford Business Group
(OBG) di Jakarta belum lama ini menyatakan aturan baru tersebut berarti
sekarang perusahaan asing bisa bekerjasama dengan perusahaan dalam
negeri.
Pengunjung berfoto dengan barisan kendaraan Panser Anoa 6x6 buatan PT. Pindad.
"Waktu yang lalu, sektor pertahanan Indonesia tertutup bagi
investor asing sementara dengan peraturan baru ini memungkinkan investor luar
negeri untuk masuk ke sektor ini melalui kerjasama," tuturnya. Yusgiantoro berbicara dengan OBG sebagai bagian dari penyusunan hasil
penelitian untuk Laporan: Indonesia 2013, tentang panduan kegiatan
ekonomi negara Grup dan peluang investasi yang disusun dengan bantuan
penelitian dari BKPM, Kamar Dagang Indonesia & Industri (KADIN), Lubis
Santosa & Maramis dan Pricewaterhouse Coopers (PWC).
Laporan ini akan mencakup panduan sektor-per-sektor secara rinci untuk
investor asing, di samping berbagai wawancara dengan para pemimpin politik,
ekonomi dan bisnis yang paling menonjol.
Menteri mengatakan, prioritas pemerintah adalah untuk menghasilkan industri
pertahanan manufaktur yang akan memproduksi peralatan militer secara lokal bila
memungkinkan, dengan memastikan bahwa pengetahuan dan keterampilan tersebut
dialihkan kepada tenaga kerja lokal selama usaha kerjasama berlangsung.
"Dana sebesar US$ 15 milyar telah dialokasikan untuk produksi peralatan
pertahanan di dalam negeri lima tahun ke depan," katanya. "Pembelian peralatan militer dari luar negeri juga diperbolehkan dengan
syarat alih teknologi yang tepat dijamin sepenuhnya. Yang penting bagi kami
adalah setiap kesepakatan militer yang kami tandatangani dengan
pemerintah asing harus memastikan adanya alih pengetahuan berkelanjutan."
Beliau menyoroti perusahaan patungan negara dengan Korea Selatan untuk
memproduksi tiga kapal selam yang akan memastikan Indonesia secara bertahap
mengambil peran yang lebih besar sebagaimana proyek tersebut bergulir.
"Kapal selam pertama akan dibangun di Korea Selatan, yang kedua akan
dibangun di bawah skema usaha patungan (joint venture) antara Indonesia dan
Korea Selatan, sementara kami berharap bahwa kapal selam ketiga akan sepenuhnya
dibangun di Indonesia oleh Galangan Indonesia, PT PAL," katanya.
Semarang - TNI AL dan Universitas Diponegoro
(Undip) Semarang
menjalin kerja sama peningkatan sumber ddaya manusia (SDM) di bidang Hidrografi
dan Oseanografi melalui pedidikan, pelatihan, dan penelitian. Hal itu ditandai
dengan penandatangangan kerja sama antara Kepala Dinas Hidro-Oseanografi TNI AL
(Dishidros) dan Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, di Semarang, Jawa
Tengah, Senin (3/12).
Penandatangan Kerjasama TNI AL - UNDI
Kepala Dishidros, Laksma TNI Aan Kurnia, mengatakan kerja sama di bidang
pendidikan dan pelatihan ini nantinya dapat saling memberikan kesempatan kepada
mahasiswa ilmu perikanan dan kelautan dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan.
"Kerja sama ini juga untuk mendukung pelaksanaan Tri Dharma Perguruan
Tinggi (pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat), dan untuk
meningkatkan SDM dalam bidang hidrografi dan oseanografi," kata dia.
Sementara itu, Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Muhamad Zaenuri,
mengungkapkan dengan adanya kerja sama ini akan sangat bermanfaat bagi
mahasiswa dalam melakukan penelitian tentang ilmu kelautan. "Dari kerja
sama tersebut diharapkan dapat memberikan dampak positif untuk meningkatkan
Ilmu pengetahuan di bidang kelautan bagi para mahasiswa," ujar dia.
Jakarta - Indonesia membutuhkan ikon pahlawan
di laut sebagaimana tokoh-tokoh seperti Sinbad, Kapten Hawk, Colombus, hingga
Marcopolo di negara-negara lain. Ikon kepahlawanan di laut dibutuhkan untuk
menumbuhkan watak dan karakter anak bangsa. Sejumlah nama pahlawan laut di
Indonesia, seperti Hang Tuah, Malahayati, Nala, hingga komandan Pasukan M,
Kapten Markadi, belum berhasil menjadi ikon.
"Ikon-ikon pahlawan laut seperti di negara lain saat ini belum tumbuh di Indonesia,"
kata Kepala Staf TNI AL (Kasal), Laksamana Soeparno, saat meluncurkan buku
Pasukan M, di Jakarta, Senin (3/12). Khusus Kapten Markadi, dia patut menjadi ikon karena ketokohannya yang
menyerupai Bima dalam babad Mahabarata. "Ibarat Bima, dia memiliki
karakter gagah, teguh, kuat, tabah, jujur, berhati lembut, dan rendah
hati," kata dia.
Bahkan, kata Kasal, Pasukan M yang hanya menggunakan perahu kecil mampu
mengusir pasukan Belanda yang memiliki kapal lebih canggih. Pertempuran yang
dilakoni Pasukan M ini dinilai sebagai pertempuran laut pertama di Indonesia.
Pertempuran itu juga dinilai sebagai operasi gabungan pertama yang melibatkan
rakyat.
Buku Pasukan M yang ditulis Iwan Santosa dan Wenri Wanhar ini diharapkan
menjadi sarana efektif untuk mentransfer nilai-nilai kepahlawanan ke generasi
penerus. "Saya berharap buku mengenai Pasukan M yang berjuang di Selat Bali pada 1945-1949 ini mampu memberi penyadaran bahwa
kebersamaan perjuangan sudah terbentuk sejak negeri ini berdiri," jelas
dia.
Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, menyatakan Kapten Markadi pantas
menjadi ikon pejuang maritim di Indonesia.
"Dia adalah bagian penting dalam perjalanan perjuangan kemerdekaan Indonesia,"
kata Menhan.
Purnomo berharap peluncuran buku Pasukan M ini bisa menjadi referensi bagi
generasi penerus untuk tetap mengenang nilai-nilai perjuangan.
"Globalisasi yang saat ini berkembang begitu cepat bisa menggerus
nilai-nilai kebangsaan. Jadi, harus dibendung," kata dia. Purnomo berharap tim penulis tak henti-hentinya menulis kisah kepahlawanan.
"Ini wujud dari refleksi bela negara," ujar dia.
Kepala Dinas Penerangan TNI AL,
Laksamana Pertama Untung Suropati, menjelaskan penulisan sejarah Pasukan M
merupakan cara untuk merekonstruksi kembali kisah-kisah heroik para pejuang di
laut. "Sikap berani dan pantang menyerah pasukan ini telah menginspirasi
dan menjadi daya dorong generasi muda untuk menelusuri sejarah bangsanya,"
kata Untung.
Buku Pasukan M ditulis selama lima bulan dengan melakukan penelusuran sejarah
ke lokasi tempat terjadinya peristiwa, yakni ke Jembrana Bali, Denpasar,
Banyuwangi, Malang, Lawang, dan Surabaya. Tim penulis juga melakukan riset
sejarah dan kepustakaan ke Nederlands Instituut voor Militaire Historie (NIMH)
Den Hague, Museum KNIL Bronbeek, Arnhem KITLV Leiden, Nederlands Instituut voor
Oorlog Documentatie (NIOD) Amsterdam.
Lebanon - Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) Force Protection Company (FPC)
TNI Kontingen Garuda (Konga) XXVI-D2/UNIFIL (United Nations Interim Force In
Lebanon), Mayor Inf Wimoko menyerahkan tugas wewenang dan tanggung jawab
jabatannya kepada Mayor Inf Yuri Elias Mamahi selaku Dansatgas Konga
XXVI-E2/UNIFIL. Pelaksanaan serah terima Otoritas Kendali Operasional (Transfer
Of Authority/TOA) dilaksanakan di Lapangan Sudirman Camp, Green Hill, Naqoura-Lebanon,
Senin (3/12/2012).
Dengan telah diserahkannya Otoritas Kendali Operasional Satgas FPC, maka
terhitung saat itu 150 personel Satgas FPC Konga XXVI-E2/UNIFIL, akan mempunyai
tugas pokok sebagai berikut:
Mengamankan wilayah Markas Besar UNIFIL di Naqoura; menyiapkan tim
penanggulangan huru-hara (CRC) dengan berkemampuan pengendali masa yang dapat
bergerak cepat terhadap ancaman yang mungkin timbul; menyiapkan tim reaksi
cepat (QRT); melaksanakan pengawalan terhadap semua aset Force Commander (FC)
selama dalam perjalanan di daerah operasi dengan mengacu pada direktif dari FC;
sebagai bagian dari unit pertahanan dalam satuan pertahanan terkoordinasi dalam
wilayah Markas Besar UNIFIL; memberikan bantuan massive deployment kepada unsur
UN lainnya di luar camp jika mendapatkan serangan; dan melaksanakan tugas
lainnya yang diberikan FC.
Setiap harinya, Satgas FPC akan melaksanakan penjagaan di Markas Besar
UNIFIL dan patroli pengamanan selama 24 jam sehari, hal ini termasuk dengan
random patrol yang dilaksanakan secara bergantian dengan Srilangka FPC seperti
melaksanakan penjagaan di titik-titik Observation Post (OP), pintu keluar masuk
Marka Besar UNIFIL, dan melaksanakan Stand By Force, Crowd and Riot Control
(CRC) serta Quick Reaction Team (QRT).
Mayor Inf Yuri Elias Mamahi lahir di Probolinggo pada tanggal 22 Februari
1975 yang sehari-hari menjabat sebagai Pabandya Renanev Kopassus adalah lulusan
Akademi Militer tahun 1996. Menikah dengan Yohana Evi S. dan dikaruniai 2
orang anak, 1 orang putri bernama Richelle Elivyana M. dan 1 orang putra
bernama Richard Elivyano M.
Upacara serah terima Otoritas Kendali Operasional Satgas FPC Konga
XXVI-D2/UNIFIL kepada Konga XXVI-E2/UNIFIL dihadiri pula oleh para Dansatgas
yang tergabung dalam Kontingen Indonesia
serta perwakilan dari kontingen negara lain, antara lain Nepal, Srilangka,
Spanyol, Italia dan Perancis yang tergabung dalam misi UNIFIL di Lebanon
Selatan.
Perjalanan
dengan KRI Surabaya 591 meliput Armada Jaya
XXXI/2012 Oktober lalu sangat mengesankan. Selain bisa menyaksikan dari dekat
penembakan rudal
Yakhont, juga bisa menyimak pengoperasian helikopter di kapal perang TNI AL.
Oleh karena luas geladak terbatas, pendaratan dan lepas-landas harus dilakukan
ekstra hati-hati dan prosedural. Berikut pengamatan langsung di Perairan Sulawesi.
KRI Surabaya
591 adalah satu dari lima
kapal Landing
Platform Dock (LPD) yang dimiliki TNI Angkatan Laut. Meski disebut
kapal perang, secara umum profil kapal ini tak sama dengan kapal perang dari
kelas Van Speijk
atau Sigma
yang memiliki meriam, rudal dan persenjataan tempur lain. LPD hanya memiliki
meriam 20 mm untuk sista antipesawat udara, namun (kelebihannya) bisa menjadi
pangkalan militer terapung untuk dukungan operasi amfibi.
Helikopter TNI sedang Melakukan Pendaratan Di Geladak Kapal Jenis LPD
LPD, sejatinya pula, telah dirancang sebagai kuda beban yang amat moveable. Ia
bisa berlayar kemana saja non-stop 23 hari dengan kecepatan 14 knot, tanpa isi bahan
bakar. Selain bisa difungsikan menjadi kapal markas komando, ia juga bisa
membawa ratusan pasukan pendarat, sejumlah tank, beberapa kendaraan tempur,
kapal pendarat, serta helikopter-helikopter untuk mendukung gugus tugas armada
laut. Geladak atasnya bisa didarati tiga helikopter. Dengan demikian, kapal
perang yang sepintas mirip kapal induk kelasTarawa
ukuran mini ini juga bisa dikerahkan untuk dukungan misi kemanusiaan ke
daerah-daerah yang terkena bencana.
Khusus untuk lepas-landas dan pendaratan helikopter, kapal ini memiliki
ruang kontrol penerbangan yang unik, dalam arti tidak besar namun proporsional.
Ruang kontrol bernama Heli Control Room ini terletak di belakang anjungan,
menghadap langsung geladak atau dek di buritan kapal, tempat
helikopter-helikopter itu mendarat dan lepas-landas. Sementara di depan geladak
ada hanggar untuk satu heli yang juga bisa dikontrol lewat HCR.
Dari balik kaca ruang kontrol seluas 2 x 3 meter yang menempel di belakang
anjungan ini, seorang perwira operasi yang didampingi seorang kelasi bisa
melihat ke semua sisi geladak. Mereka bisa memantau kerja petugas ground-handling.
Dari sini, mereka juga bisa memantau kedatangan helikopter dan memberi dukungan
sinyal dan informasi slopedan arah
untuk penerbang. Perwira operasi bisa berasal dari skadron udara tempat asal
helikopter atau bisa pula perwira dari kapal yang bersangkutan.
Beda Teknik Approaching
Mengoperasikan helikopter di kapal perang atau kapal laut menuntut
keterampilan khusus karena lebih sulit ketimbang mendaratkan atau lepas landas
dari pangkalan di daratan. Keterampilan khusus ini diperlukan karena
helikopter-helikopter ini harus didaratkan atau lepas-landas di atau dari
medium yang bergerak, di atas geladak yang luasnya terbatas. Penerbang harus
menguasai teknik approaching
yang amat berbeda dengan teknik pengoperasian di darat karena faktor kecepatan
angin di atas laut yang beragam atau gampang berubah.
“Keterampilan seperti ini wajib
dikuasai setiap penerbang dan harus terus-menerus di-update. Ini
penting karena, bahkan, sampai sekarang pun masih terjadi kecelakaan yang tidak
perlu terjadi akibat penerbang salah mengantisipasi titik pendaratan yang
benar, kecepatan dan arah angin atau kecepatan kapal,” tutur Letkol Laut (P) Muhammad
Tohir, Komandan Skwadron 400 , Pusat Penerbangan TNI AL, dalam wawancara khusus
di atas KRI Surabaya 591.
Permasalahan seperti itu boleh jadi terdengar absurdnamun faktual. Hal ini
bisa dicontohkan dengan kasus terjungkalnya helikopter milik AL Kanada beberapa
waktu lalu di ujung geladak gara-gara salah mengantisipasi titik pendaratan
yang benar. Usut punya usut, musibah ini disebabkan oleh minimnya marking di
atas geladak.
Kasus tersebut terbilang aneh tapi nyata oleh karena menurut aturan
internasional, markingdinyatakan harus ada, lengkap, jelas
dan harus disertifikasi. Begitu juga dengan kelengkapan lampu-lampu (lighting)
pemandu pendaratan dan lepas-landas. Permasalahan ini termasuk salah satu yang
dibahas dalam pertemuan tahunan HOSTAC (Helicopter Operation from Ships other Than Aircraft
Carriers) yang rajin dihadiri Letkol Tohir.
HOSTAC adalah program internasional beranggotan 34 negara untuk standarisasi
penerbangan helikopter militer di atas kapal laut selain kapal induk. “Di
pertemuan rutin ini, setiap permasalahan akan dicarikan pemecahan dan dibuatkan
prosedur untuk mengatasinya. Ini demi mencegah kesalahan serupa di masa
datang,” ujar Letkol Tohir.
Untuk itu baik penerbang maupun perwira operasi yang bertugas di HCR memang
bisa saja menolak pendaratan atau lepas landas jika kondisi atau keadaan memang
tidak memungkinkan. Tak peduli bahwa yang helikopter tersebut sedang mengangkut
helikopter atau logistik yang amat penting.
Sekilas LPD
Kemajuan teknologi dan meningkatnya kebutuhan akan peralatan tempur yang
mumpuni telah mendorong berbagai pabrikan untuk menciptakan alat utama sistem
senjata yang tepat sesuai kebutuhan customer, tak terkecuali untuk
kapal-kapal pendarat pasukan. Landing Platform Dock adalah salah satu alat utama yang
terus-menerus diperbaharui rancangannya oleh sebab kebutuhan tersebut. Seperti
dituntut petinggi Angkatan Laut AS, kini sebuah LPD baru bisa dikatakan layak
jika mampu mengangkut sekaligus enam sampai tujuh Landing Craft Air Cushion dan
bisa mendukung operasi Expenditionary Strike Group.
Kebutuhan masa kini dan masa datang juga menuntut LPD bisa didarati
helikopter sehingga harus memiliki geladak atau deck yang layak dan
bersertifikasi. Dengan demikian, selain sangat layak difungsikan kapal transpor
untuk para marinir, LPD juga bisa dimanfaatkan sebagai kapal markas dan
pangkalan operasional di tengah laut. Dan untuk alasan tertentu, kapal ini juga
harus bisa dikerahkan untuk misi pertolongan ke daerah bencana.
Oleh karena spektrum fungsi yang luas, berbagai negara pun antusias membeli
LPD. Bahkan sampai ada yang sampai memesan menurut kebutuhan yang spesifik. TNI
AL sendiri sejauh ini sudah memiliki lima
unit yang sama-sama berasal dari Kelas Makassar. KRI Makassar590 adalah LPD kedua buatan Daesun
Shipbuilding & Engineering Co., Korea Selatan, yang dirancang berdasarkan
LPD pertama, KRI Tanjung
Dalpele. KRI Tanjung Dalpele selanjutnya berubah nama dan fungsi jadi
KRI Dr Suharso,
satu-satunya kapal rumah sakit yang dimiliki TNI. LPD ketiga adalah KRI Surabaya.
Sementara LPD keempat dan kelima, yakni KRI Banjarmasin 592 dan KRI Banda Aceh
593, tidak lagi dibangun di Korea Selatan tapi di fasilitas PT PAL, Surabaya.
Meski berasal dari satu kelas, dalam beberapa sisi, KRI Surabaya 591 dan KRI
Banjarmasin 592 toh memiliki perbedaan. Misalnya, dalam hal luas geladak untuk
pendaratan helikopter. Geladak KRI Surabaya lebih kecil dan hanya bisa didarati
dua helikopter, sementara geladak KRI Banjarmasin lebih luas dan bisa didarati
tiga helikopter. Lebih jauh tentang fisik teknis KRI Surabaya, simak boks
spesifikasinya.
Bandung - PT Dirgantara Indonesia (DI)
melakukan pembenahan diri skala besar untuk menghadapi tantangan bisnis
kedirgantaraan kini dan masa depan. Antara lain, melalui program
restrukturisasi dan revitalisasi.
“Pasar industri
kedirgantaraan semakin kompetitif. DI sebagai industri pesawat terbang
kebanggaan bangsa Indonesia harus siap menghadapi tantangan itu agar tetap
eksis,” kata I.P. Windu Nugroho, staf senior Divisi Komunikasi DI di Bandung,
Selasa (4/12).
PT. Dirgantara Indonesia
PT. DI telah melakukan program
restrukturisasi dan revitalisasi baik dalam hal organisasi, keuangan, tenaga
kerja, perbaikan sistem informasi teknologi, permesinan, dan lainnya.
Untuk program revitalisasi,
katanya, PT. DI dibantu oleh para tenaga ahli dari Airbus Military sebagai mitra
bisnis utama saat ini. Sejarah panjang kerjasama PT. DI dan Airbus Military dalam
pembuatan dan pengembangan pesawat terbang di Indonesia sejak 1976.
“Dengan semakin
meningkatnya kepercayaan Airbus Military terhadap kinerja PT. DI, beberapa bentuk
perjanjian baru telah dibuat dan ditandatangani,” kata Windu. Antara lain,
Airbus telah memutuskan pemindahan produksi pesawat C295 dari Sevilla di
Spanyol ke Bandung.
Program revitalisasi
lainnya yaitu pembenahan dengan mengubah sistem IT yang ada. Semula dari sistem
Integrated Resources Planning (IRP) menjadi sistem Enterprise Resources
Planning (ERP). Sementara tahap
implementasi berupa pembersihan data, pengujian sistem SAP serta pelatihan bagi
pemakai.
Sejarah
motif ini sangat panjang. Di Indonesia mulai dikenal menjelang akhir Perang
Kemerdekaan ketika Belanda membawa armada P-51D Mustang yang saat itu disebut dengan
Cocor Merah. Ada
juga yang menyebutnya Mustang Gigi.
Hiasan ini sangat populer hampir di setiap era ada saja pesawat yang
dihiasai dengan motif seperti ini. Tampilanya dari zaman ke zaman nyaris tidak
jauh berbeda yaitu bentuk gigi yang menyeringai warna putih dengan ekspresi
mata yang sedang marah. Dan jika menggunakan baling-baling pada bagian ujung (cone)
hidung pesawat biasanya diberi warna merah.
Kalau diperhatikan pesawat yang menggunakan motif ini adalah keluaran
pabrikan dari AS. Padahal Luftwaffe adalah yang pertama kali mengunakannya di
tahun 1915 pada pesawat Roland C.II yang dipiloti oleh Oberleutnant Ritter von
Schlech. Cuma saat itu motifnya masih bernama Walfisch (ikan paus)
dengan bentuk gambar yang belum begitu jelas. Tapi inilah yang menjadi cikal
baka dari motif moncong hiu.
Barulah pada saat PD II bergelora motifnya mulai terlihat jelas, yaitu pada
Messerschmitt 110 dari 11Gruppe ZG76 Haifisch (ikan hiu) yang menjadi
standar dari kesatuan itu dan terlihat juga di beberapa glider tempur
Gotha Go 242A. Rupanya motif ini juga disenangi oleh pihak Sekutu terutama
Amerika Serikat dimana hampir di semua jenis pesawat kalau tidak dihiasi
lukisan wanita seksi ya tentunya moncong hiu itu. Sebut saja seperti pada
pesawat P-38 Lightning,P-39D Airacobra, P-51A/B Mustang,dan
P-61 Black Widow. Bahkan pesawat-pesawat pembom pun tidak mau
ketinggalan seperti A-20 Havoc, B-17 Flying Fortress, B-24 Liberator,
B-25 Mitchell, B-26 Marauder, dan A-26 Invader.
Rupanya motif gigi hiu ini juga mewabah sampai ke pesawat kecil seperti L-4
Piper Cub dan L-5 Stinson .
Flying Tiger
Motif moncong hiu ini baru benar-benar melegenda saat digunakan oleh
para penerbang yang tergabung dalam AVG (American Volunteer Group) yang
bertugas di Burma
ketika bertempur melawan Jepang. Ide penggunaan motif ini datang ketika Letjen
Claire Chennault ingin membuat insignia yang khas pada tiga skadron
pesawat tempurnya yaitu P-40. Untuk memenuhi keinginan pimpinanya beberapa
penerbang dengan bantuan seniman lokal mencoba membuat sketsa dari kapur tulis
motif gigi hiu pada bagian moncong pesawatnya. Ide ini sebenarnya sudah ada
sebelum pimpinan kharismatik itu memintanya dan ternyata sketsa yang diajukan
disetujui. Para penerbang ini juga mengakui
bahwa ide ini mereka adopsi dari pesawat tempur milik Jerman yang bertempur di
atas pulau Kreta.
Dengan tambahan gambar seekor macan bersayap sedang menerkam, sejak saat itu
nama pangilan dari AVG dikenal dengan The Flying Tiger. Apalagi
setelah majalah Time terbitan 6 Desember 1943 sampulnya membuat
ilustrasi wajah sang jenderal dengan latar lukisan macan terbang.
Perang Dunia II usai tapi konflik berlanjut di Semenanjung Korea, rupanya
motif ini masih tetap disenangi. Mungkin selain lebih indah pesawat yang
dilukis motif moncong hiu ini akan terlihat lebih garang. Selain Mustang
yang sudah menggunakan terlebih dahulu, beberapa pesawat jenis jet yang baru
pertama kali diterjunkan dalam pertempuran ramai-ramai mengadopsi motif ini
seperti F-80C Shooting Star dan F-86 Sabre.
Konflik berlanjut ke Perang Dingin, motif moncong hiu tetap hadir.
Peminatnya lumayan banyak, paling tidak di awal konflik saja sejumlah pesawat
tempur menggunakannya seperti F-9F Panther, F-11F Tiger,
F-86D Sabre Dog, F-89D Scorpion, F-94B Star Fire,
dan F-102A Delta Dagger.
Perang Dingin semakin memanas. Dengan dimulainya Perang Vietnam pesawat
dibuat semakin canggih dan helikopter mulai digunakan untuk bertempur. Motif
moncong hiu masih saja diminati seperti yang terlihat pada pesawat-pesawat F-8H
Crusader, F-105D Thunderchief, OV-1C Mohawk, F-4 Phantom,
AH-1G Cobra,UH-1B Huey, A-7 Corsair, dan OV-10A Bronco.
Era Perang Vietnam
berlalu, bahkan Perang Dingin pun berakhir. Dunia memang masih menyisakan
beberapa perang besar seperti Perang Malvinas dan Perang Teluk, tapi masih ada
saja pesawat yang menggunakan motif ini seperti F-14 Tomcat, A-10Thunderbolt,
dan F-16C Fighting Falcon yang berpangkalan di Jerman bahkan ada juga
pesawat F-15E Strike Eagle yang meggunakan motif moncong hiu walaupun
tidak terlalu menonjol.
Di Amerika yang masih setia menggunakan motif ini adalah pesawat A-10 dari
23rd Fighter Group yang berpangkalan di Lanud
Macdill, Florida.
Belum lama ini memperingati 70 tahun (1942-2011) dari skadron Flying Tiger
dengan mengundang para pelakunya yang masih ada.
Di Indonesia motif moncong hiu ini mulai dikenal ketika Belanda membawa
pesawat P-51D Mustang sebagai kekuatan tempurnya dan sebagian
menggunakan motif moncong hiu. Di sinilah mulai dikenal sebutan Cocor Merah dan
Mustang Gigi. Sampai Indonesia
menyatakan kemerdekaannya dan memiliki Angkatan Udara sendiri (AURI) dengan
modal pesawat-pesawat yang diserahkan oleh Belanda kepada Indonesia.
Motif moncong hiu ini masih dipertahankan yang saat itu Mustang
tergabung dalam Skadron Udara 3.
Setelah tertidur cukup lama TNI AU kembali menghidupkan motif ini pada
pesawat tempur terbarunya yaitu EMB-314 Super Tucano. Legenda Si Cocor
Merah diharapkan bisa bangkit lagi di dalam Skadron Udara 21.