Wednesday, 5 December 2012

TNI AL Gandeng Pramuka Kenalkan Dunia Bahari


Jakarta - TNI AL menggandeng gerakan Pramuka untuk memperkenalkan kepada pemuda betapa kayanya potensi maritim di Indonesia. TNI AL ingin menarik minat pemuda melalui gerakan Pramuka agar mau mempelajari laut Indonesia.

"Kita ingin mengemas pengajaran mengenai dunia maritim dengan cara bermain. Mengajak anggota Pramuka ini merupakan pilihan yang sangat strategis. Gerakan Pramuka selalu memperkenalkan para pemuda pada ilmu pengetahuan dengan cara bermain," kata Kepala Dinas Potensi Maritim TNI AL, Laksma Kingkin Suroso, saat meluncurkan Majalah SeaKing, di Jakarta, Selasa (4/12).

Sejumlah anak sedang berada di atas Kapal Perang Republik Indonsia.

Menurut Kingkin, penerbitan majalah SeaKing merupakan bagian tak terpisahkan dalam sosialisasi dunia bahari. Penerbitan majalah yang rencananya terbit sebulan sekali itu adalah untuk memberikan wadah bagi para pemuda untuk berkreasi. “Kalau dulu ada istilah 'jangan lupa daratan' karena sering menjelajah di laut, saat ini harus dibalik menjadi 'jangan lupa lautan'’ karena terlalu sering di darat," kata dia.

Pengetahuan kebaharian bagi pemuda, Kingkin menambahkan, sebagai salah satu bekal untuk mempersiapkan mereka menjadi pemimpin yang berkarakter dan menitikberatkan pada pembangunan kawasan laut. Sejumlah kegiatan kebaharian yang saat ini dikembangkan TNI AL dan digemari pemuda adalah pelatihan selam dan penjelajahan di laut. "Di Universitas Indonesia saja sudah ada tiga angkatan yang belajar menyelam," ujar dia.

Pihaknya juga sudah mengembangkan kegiatam outbond laut yang menjurus pada sea survival atau ketangguhan di laut. "Umumnya banyak mahasiswa yang jenuh hanya berpetualang di gunung. Itu makanya kita kenalkan mereka dengan penjelajahan laut," jelas dia.

Sementara itu, Staf Ahli Dispotmar TNI AL, Ruly Rahadian, menambahkan saat ini TNI AL bahkan tengah menyiapkan acara jelajah laut yang diberi nama Pelayaran Nusantara. Kegiatan pelayaran itu diikuti 1.500 anggota Pramuka se-Indonesia. "Kita ingin membentuk mindset pemuda agar mencintai laut," ujar dia.

TNI AL juga bekerja sama dengan sejumlah instansi untuk mengemas agar pemberian pengetahuan mengenai dunia bahari lebih bisa diterima kalangan muda, seperti bekerja sama dengan Pusat Penelitian Institut Teknologi Bandung dan Fakultas Seni Rupa ITB. Selain penjelajahan bahari, TNI AL juga tengah membangun kewirausahaan berbasis sumber daya laut di setiap landasan angkatan laut di seluruh Indonesia.



Sumber : Koran Jakarta

PT Dirgantara Indonesia lakukan pembenahan besar

Bandung - PT Dirgantara Indonesia (Persero) melaksanakan pembenahan diri skala besar melalui program restrukturisasi dan revitalisasi guna menghadapi tantangan bisnis kedirgantaraan kini dan masa depan. "Pasar industri kedirgantaraan semakin kompetitif. PT DI sebagai industri pesawat terbang kebanggaan bangsa Indonesia harus siap menghadapi tantangan itu agar tetap eksis," kata I.P. Windu Nugroho, staf senior Divisi Komunikasi PT DI kepada pers di Bandung, Selasa (4/12).


Windu mengatakan jajaran PT DI menyadari upaya menghadapi tantangan bisnis itu bukan pekerjaan mudah. Diperlukan kerja keras dan tekad bersama seluruh komponen bangsa terkait, dukungan Pemerintah dan para pemangku kepentingan lainnya, wacana saja tak cukup, kata Windu.Untuk menjawab tantangan, PT DI telah melakukan Program Restrukturisasi dan Revitalisasi baik dalam hal organisasi, keuangan, SDM, perbaikan sistem Informasi Teknologi, permesinan, dan lainnya. 

Pengunjung melihat maket Pesawat N-219 yang tengah dikembangkan oleh PT. DI dan BPPT. Foto : Antara / Dhoni Setiawan.

"Restrukturisasi ini berdasarkan arahan Pemerintah saat pelantikan manajemen baru Oktober lalu," kata Windu. Untuk program Revitalisasi, katanya, PT DI sepenuhnya dibantu oleh para tenaga ahli dari Airbus Military sebagai mitra bisnis utama saat ini. Sejarah panjang kerjasama PTDI dan Airbus Military dalam pembuatan dan pengembangan pesawat terbang di Indonesia sejak 1976.

"Dengan semakin meningkatnya kepercayaan Airbus Military terhadap kinerja PTDI, beberapa bentuk perjanjian baru telah dibuat dan ditandatangani," kata Windu yang menambahkan Airbus telah memutuskan pemindahan produksi pesawat C295-nya dari Sevilla di Spanyol ke Bandung.

Kerjasama PTDI-Airbus Military itu antara lain dalam Perjanjian Kerjasama Strategis (Strategic Collaboration Agreement), Perjanjian Beregu (Teaming Agreement), Perjanjian CN295, Perjanjian Kolaborasi Industri (Industrial Collaboration Agreement).

Khusus program revitalisasi untuk proyek CN295, kerjasamanya bertujuan memperluas kemampuan Industri Strategis Nasional, ditandatangani pada 21 Desember 2011, meliputi beberapa paket pekerjaan strategis, yaitu Rear Fuselage, Empennages, Delivery Center, In-Service Support dan Computer Based Training.

Dari kerjasama tersebut, PT DI berharap dapat memproduksi beberapa komponen penting dari pesawat CN295, baik yang diperuntukan bagi customer domestik maupun luar negeri, serta pengiriman pesawat ke customer tepat waktu.  Saat ini PT DI dan Airbus Military telah menyelesaikan Industrial Plan dan New Lay-out untuk Rear Fuselage, Empennages dan Delivery Center.

"Diharapkan pada awal tahun 2013 Delivery Center sebagai pusat pengiriman pesawat CN295 dapat dirampungkan pembangunannya," katanya. Selain dari itu, pekerjaan program revitalisasi lainnya adalah pembenahan dengan mengubah sistem IT yang ada, semula dari sistem Integrated Resources Planning (IRP) menjadi sistem Enterprise Resources Planning (ERP).

Sistem ERP akan digunakan adalah SAP, yaitu sistem ERP yang kini banyak penggunanya baik di lingkungan BUMN maupun swasta dengan keunggulan antara lain data lebih akurat, visibilitas lebih baik, kontrol lebih bagus serta aliran data lebih mulus dia ntara seluruh unit dan direktorat yang ada di lingkungan perusahaan.

Tahapan implementasi berupa pembersihan data, pengujian sistem SAP serta pelatihan bagi pemakai. Dengan terealisasinya seluruh program revitalisasi di tubuh PTDI, diharapkan perusahaan pelat merah ini siap menghadapi tantangan pasar yang semakin komplek dan PTDI mampu menjawab semua itu, demikian Windu.

Sejak berdiri tahun 1976 hingga kini PTDI telah memproduksi lebih dari 300 pesawat, baik sayap tetap (fixed wing) maupun helikopter (rotary wing). Untuk produk Pesawat NC-212 di bawah lisensi CASA (sekarang Airbus Military), PTDI telah diproduksi lebih dari 102 unit baik versi sipil maupun militer.

PTDI juga telah memproduksi sebanyak 122 helikopter NBO-105 dibawah lisensi MBB (sekarang Eurocopter Jerman). Sebagian besar helikopter tersebut dioperasikan oleh militer Indonesia.  Selain itu PTDI juga telah memproduksi helikopter NBell-412 lebih dari 33 unit ditambah NBell-412 EP sebanyak 7 unit dibawah lisensi Bell Helicopter Textron (USA) serta helikopter Super Puma 22 unit dibawah lisensi Aerospatiale (sekarang Eurocopter Perancis).

Produk CN-235 dari hasil kerjasama dengan CASA Spanyol yang dimulai sejak tahun 1979 telah menghasilkan kurang lebih 260 unit dan telah tersebar di berbagai negara di dunia. Terbang perdana CN-235 dilakukan pada bulan Desember 1983 dan mulai masuk pasar pada tahun 1986.



Sumber : Antara

RI Buka Peluang Industri Asing Produksi Peralatan Pertahanan dan Militer


Jakarta - Indonesia telah membukakan peluang industri pertahanan  bagi perusahaan asing untuk masuk. Syaratnya, perusahaan itu harus mengandeng  perusahaan dalam negeri untuk memproduksi peralatan pertahanan dan militer.

Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro menyatakan, kepada perusahaan penerbitan, penelitian dan perusahaan konsultan global, Oxford Business Group (OBG) di Jakarta belum lama ini menyatakan aturan baru tersebut berarti sekarang perusahaan asing  bisa bekerjasama dengan perusahaan dalam negeri. 

Pengunjung berfoto dengan barisan kendaraan Panser Anoa 6x6 buatan PT. Pindad.

"Waktu yang lalu,  sektor pertahanan Indonesia tertutup bagi investor asing sementara dengan peraturan baru ini memungkinkan investor luar negeri untuk masuk ke sektor ini melalui kerjasama," tuturnya. Yusgiantoro berbicara dengan OBG sebagai bagian dari penyusunan hasil penelitian untuk Laporan: Indonesia 2013,  tentang panduan kegiatan ekonomi negara Grup dan peluang investasi yang disusun dengan bantuan penelitian dari BKPM, Kamar Dagang Indonesia & Industri (KADIN), Lubis Santosa & Maramis dan Pricewaterhouse Coopers (PWC).

Laporan ini akan mencakup panduan sektor-per-sektor secara rinci untuk investor asing, di samping berbagai wawancara dengan para pemimpin politik, ekonomi dan bisnis yang paling menonjol.

Menteri mengatakan, prioritas pemerintah adalah untuk menghasilkan industri pertahanan manufaktur yang akan memproduksi peralatan militer secara lokal bila memungkinkan, dengan memastikan bahwa pengetahuan dan keterampilan tersebut dialihkan kepada tenaga kerja lokal selama usaha kerjasama  berlangsung. 

"Dana sebesar US$ 15 milyar  telah dialokasikan untuk produksi peralatan pertahanan di  dalam negeri lima tahun ke depan," katanya. "Pembelian peralatan militer dari luar negeri juga diperbolehkan dengan syarat alih teknologi yang tepat dijamin sepenuhnya. Yang penting bagi kami adalah setiap kesepakatan militer yang kami tandatangani  dengan pemerintah asing harus memastikan adanya alih pengetahuan berkelanjutan."

Beliau menyoroti perusahaan patungan negara dengan Korea Selatan untuk memproduksi tiga kapal selam yang akan memastikan Indonesia secara bertahap mengambil peran yang lebih besar sebagaimana proyek  tersebut bergulir.

"Kapal selam pertama akan dibangun di Korea Selatan, yang kedua akan dibangun di bawah skema usaha patungan (joint venture) antara Indonesia dan Korea Selatan, sementara kami berharap bahwa kapal selam ketiga akan sepenuhnya dibangun di Indonesia oleh Galangan Indonesia, PT PAL," katanya.



Sumber : Tribunnews

TNI AL – Unversitas Diponegoro (Undip) Jalin Kerja Sama Penelitian

Semarang - TNI AL dan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang menjalin kerja sama peningkatan sumber ddaya manusia (SDM) di bidang Hidrografi dan Oseanografi melalui pedidikan, pelatihan, dan penelitian. Hal itu ditandai dengan penandatangangan kerja sama antara Kepala Dinas Hidro-Oseanografi TNI AL (Dishidros) dan Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, di Semarang, Jawa Tengah, Senin (3/12).

Penandatangan Kerjasama TNI AL - UNDI

Kepala Dishidros, Laksma TNI Aan Kurnia, mengatakan kerja sama di bidang pendidikan dan pelatihan ini nantinya dapat saling memberikan kesempatan kepada mahasiswa ilmu perikanan dan kelautan dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan.

"Kerja sama ini juga untuk mendukung pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi (pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat), dan untuk meningkatkan SDM dalam bidang hidrografi dan oseanografi," kata dia.

Sementara itu, Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Muhamad Zaenuri, mengungkapkan dengan adanya kerja sama ini akan sangat bermanfaat bagi mahasiswa dalam melakukan penelitian tentang ilmu kelautan. "Dari kerja sama tersebut diharapkan dapat memberikan dampak positif untuk meningkatkan Ilmu pengetahuan di bidang kelautan bagi para mahasiswa," ujar dia.



Sumber : Koran Jakarta

Tuesday, 4 December 2012

Indonesia membutuhkan Ikon Pahlawan Laut


Jakarta - Indonesia membutuhkan ikon pahlawan di laut sebagaimana tokoh-tokoh seperti Sinbad, Kapten Hawk, Colombus, hingga Marcopolo di negara-negara lain. Ikon kepahlawanan di laut dibutuhkan untuk menumbuhkan watak dan karakter anak bangsa. Sejumlah nama pahlawan laut di Indonesia, seperti Hang Tuah, Malahayati, Nala, hingga komandan Pasukan M, Kapten Markadi, belum berhasil menjadi ikon.

"Ikon-ikon pahlawan laut seperti di negara lain saat ini belum tumbuh di Indonesia," kata Kepala Staf TNI AL (Kasal), Laksamana Soeparno, saat meluncurkan buku Pasukan M, di Jakarta, Senin (3/12). Khusus Kapten Markadi, dia patut menjadi ikon karena ketokohannya yang menyerupai Bima dalam babad Mahabarata. "Ibarat Bima, dia memiliki karakter gagah, teguh, kuat, tabah, jujur, berhati lembut, dan rendah hati," kata dia.

Kasal Laksamana TNI Soeparno (kanan). Foto : Detik.com

Bahkan, kata Kasal, Pasukan M yang hanya menggunakan perahu kecil mampu mengusir pasukan Belanda yang memiliki kapal lebih canggih. Pertempuran yang dilakoni Pasukan M ini dinilai sebagai pertempuran laut pertama di Indonesia. Pertempuran itu juga dinilai sebagai operasi gabungan pertama yang melibatkan rakyat.

Buku Pasukan M yang ditulis Iwan Santosa dan Wenri Wanhar ini diharapkan menjadi sarana efektif untuk mentransfer nilai-nilai kepahlawanan ke generasi penerus. "Saya berharap buku mengenai Pasukan M yang berjuang di Selat Bali pada 1945-1949 ini mampu memberi penyadaran bahwa kebersamaan perjuangan sudah terbentuk sejak negeri ini berdiri," jelas dia.

Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, menyatakan Kapten Markadi pantas menjadi ikon pejuang maritim di Indonesia. "Dia adalah bagian penting dalam perjalanan perjuangan kemerdekaan Indonesia," kata Menhan.

Purnomo berharap peluncuran buku Pasukan M ini bisa menjadi referensi bagi generasi penerus untuk tetap mengenang nilai-nilai perjuangan. "Globalisasi yang saat ini berkembang begitu cepat bisa menggerus nilai-nilai kebangsaan. Jadi, harus dibendung," kata dia. Purnomo berharap tim penulis tak henti-hentinya menulis kisah kepahlawanan. "Ini wujud dari refleksi bela negara," ujar dia.

Kepala Dinas Penerangan TNI AL, Laksamana Pertama Untung Suropati, menjelaskan penulisan sejarah Pasukan M merupakan cara untuk merekonstruksi kembali kisah-kisah heroik para pejuang di laut. "Sikap berani dan pantang menyerah pasukan ini telah menginspirasi dan menjadi daya dorong generasi muda untuk menelusuri sejarah bangsanya," kata Untung.

Buku Pasukan M ditulis selama lima bulan dengan melakukan penelusuran sejarah ke lokasi tempat terjadinya peristiwa, yakni ke Jembrana Bali, Denpasar, Banyuwangi, Malang, Lawang, dan Surabaya. Tim penulis juga melakukan riset sejarah dan kepustakaan ke Nederlands Instituut voor Militaire Historie (NIMH) Den Hague, Museum KNIL Bronbeek, Arnhem KITLV Leiden, Nederlands Instituut voor Oorlog Documentatie (NIOD) Amsterdam.



Sumber : Koran Jakarta

Serah Terima Otoritas Kendali Operasional FPC di Lebanon


Lebanon - Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) Force Protection Company (FPC) TNI Kontingen Garuda (Konga) XXVI-D2/UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon), Mayor Inf Wimoko menyerahkan tugas wewenang dan tanggung jawab jabatannya kepada Mayor Inf Yuri Elias Mamahi selaku Dansatgas Konga XXVI-E2/UNIFIL. Pelaksanaan serah terima Otoritas Kendali Operasional (Transfer Of Authority/TOA) dilaksanakan di Lapangan Sudirman Camp, Green Hill, Naqoura-Lebanon, Senin (3/12/2012).

Serah Terima Otoritas Kendali Operasional Satgas FPC Lebanon.

Dengan telah diserahkannya Otoritas Kendali Operasional Satgas FPC, maka terhitung saat itu 150 personel Satgas FPC Konga XXVI-E2/UNIFIL, akan mempunyai tugas pokok sebagai berikut:

Mengamankan wilayah Markas Besar UNIFIL di Naqoura; menyiapkan tim penanggulangan huru-hara (CRC) dengan berkemampuan pengendali masa yang dapat bergerak cepat terhadap ancaman yang mungkin timbul; menyiapkan tim reaksi cepat (QRT); melaksanakan pengawalan terhadap semua aset Force Commander (FC) selama dalam perjalanan di daerah operasi dengan mengacu pada direktif dari FC; sebagai bagian dari unit pertahanan dalam satuan pertahanan terkoordinasi dalam wilayah Markas Besar UNIFIL; memberikan bantuan massive deployment kepada unsur UN lainnya di luar camp jika mendapatkan serangan; dan melaksanakan tugas lainnya yang diberikan FC.

Setiap harinya, Satgas FPC akan melaksanakan penjagaan di Markas Besar UNIFIL dan patroli pengamanan selama 24 jam sehari, hal ini termasuk dengan random patrol yang dilaksanakan secara bergantian dengan Srilangka FPC seperti melaksanakan penjagaan di titik-titik Observation Post (OP), pintu keluar masuk Marka Besar UNIFIL, dan melaksanakan Stand By Force, Crowd and Riot Control (CRC) serta  Quick Reaction Team (QRT).

Mayor Inf Yuri Elias Mamahi lahir di Probolinggo pada tanggal 22 Februari 1975 yang sehari-hari menjabat sebagai Pabandya Renanev Kopassus adalah lulusan Akademi Militer tahun 1996.  Menikah dengan Yohana Evi S. dan dikaruniai 2 orang anak, 1 orang putri bernama Richelle Elivyana M. dan 1 orang putra bernama Richard Elivyano M.

Upacara serah terima Otoritas Kendali Operasional Satgas FPC Konga XXVI-D2/UNIFIL kepada Konga XXVI-E2/UNIFIL dihadiri pula oleh para Dansatgas yang tergabung dalam Kontingen Indonesia serta perwakilan dari kontingen negara lain, antara lain Nepal, Srilangka, Spanyol, Italia dan Perancis yang tergabung dalam misi UNIFIL di Lebanon Selatan.
 
 
 

Keunikan Pendaratan Helikopter di Geladak Kapal Perang

Perjalanan dengan KRI Surabaya 591 meliput Armada Jaya XXXI/2012 Oktober lalu sangat mengesankan. Selain bisa menyaksikan dari dekat penembakan rudal Yakhont, juga bisa menyimak pengoperasian helikopter di kapal perang TNI AL.  Oleh karena luas geladak terbatas, pendaratan dan lepas-landas harus dilakukan ekstra hati-hati dan prosedural. Berikut pengamatan langsung di Perairan Sulawesi. 

KRI Surabaya 591 adalah satu dari lima kapal Landing Platform Dock (LPD) yang dimiliki TNI Angkatan Laut. Meski disebut kapal perang, secara umum profil kapal ini tak sama dengan kapal perang dari kelas Van Speijk atau Sigma yang memiliki meriam, rudal dan persenjataan tempur lain. LPD hanya memiliki meriam 20 mm untuk sista antipesawat udara, namun (kelebihannya) bisa menjadi pangkalan militer terapung untuk dukungan operasi amfibi.

Helikopter TNI sedang Melakukan Pendaratan Di Geladak Kapal Jenis LPD

LPD, sejatinya pula, telah dirancang sebagai kuda beban yang amat moveable. Ia bisa berlayar kemana saja non-stop 23 hari dengan kecepatan 14 knot, tanpa isi bahan bakar. Selain bisa difungsikan menjadi kapal markas komando, ia juga bisa membawa ratusan pasukan pendarat, sejumlah tank, beberapa kendaraan tempur, kapal pendarat, serta helikopter-helikopter untuk mendukung gugus tugas armada laut. Geladak atasnya bisa didarati tiga helikopter. Dengan demikian, kapal perang yang sepintas mirip kapal induk kelas Tarawa ukuran mini ini juga bisa dikerahkan untuk dukungan misi kemanusiaan ke daerah-daerah yang terkena bencana.

Khusus untuk lepas-landas dan pendaratan helikopter, kapal ini memiliki ruang kontrol penerbangan yang unik, dalam arti tidak besar namun proporsional. Ruang kontrol bernama Heli Control Room ini terletak di belakang anjungan, menghadap langsung geladak atau dek di buritan kapal, tempat helikopter-helikopter itu mendarat dan lepas-landas. Sementara di depan geladak ada hanggar untuk satu heli yang juga bisa dikontrol lewat HCR.

Dari balik kaca ruang kontrol seluas 2 x 3 meter yang menempel di belakang anjungan ini, seorang perwira operasi yang didampingi seorang kelasi bisa melihat ke semua sisi geladak. Mereka bisa memantau kerja petugas ground-handling. Dari sini, mereka juga bisa memantau kedatangan helikopter dan memberi dukungan sinyal dan informasi slope dan arah untuk penerbang. Perwira operasi bisa berasal dari skadron udara tempat asal helikopter atau bisa pula perwira dari kapal yang bersangkutan.

Beda Teknik Approaching


Mengoperasikan helikopter di kapal perang atau kapal laut menuntut keterampilan khusus karena lebih sulit ketimbang mendaratkan atau lepas landas dari pangkalan di daratan. Keterampilan khusus ini diperlukan karena helikopter-helikopter ini harus didaratkan atau lepas-landas di atau dari medium yang bergerak, di atas geladak yang luasnya terbatas. Penerbang harus menguasai teknik approaching yang amat berbeda dengan teknik pengoperasian di darat karena faktor kecepatan angin di atas laut yang beragam atau gampang berubah.

“Keterampilan seperti ini wajib dikuasai setiap penerbang dan harus terus-menerus di-update. Ini penting karena, bahkan, sampai sekarang pun masih terjadi kecelakaan yang tidak perlu terjadi akibat penerbang salah mengantisipasi titik pendaratan yang benar, kecepatan dan arah angin atau kecepatan kapal,” tutur Letkol Laut (P) Muhammad Tohir, Komandan Skwadron 400 , Pusat Penerbangan TNI AL, dalam wawancara khusus di atas KRI Surabaya 591.

Permasalahan seperti itu boleh jadi terdengar absurd namun faktual. Hal ini bisa dicontohkan dengan kasus terjungkalnya helikopter milik AL Kanada beberapa waktu lalu di ujung geladak gara-gara salah mengantisipasi titik pendaratan yang benar. Usut punya usut, musibah ini disebabkan oleh minimnya marking di atas  geladak.

Kasus tersebut terbilang aneh tapi nyata oleh karena menurut aturan internasional, marking dinyatakan harus ada, lengkap, jelas dan harus disertifikasi. Begitu juga dengan kelengkapan lampu-lampu (lighting) pemandu pendaratan dan lepas-landas. Permasalahan ini termasuk salah satu yang dibahas dalam pertemuan tahunan HOSTAC (Helicopter Operation from Ships other Than Aircraft Carriers) yang rajin dihadiri Letkol Tohir.

HOSTAC adalah program internasional beranggotan 34 negara untuk standarisasi penerbangan helikopter militer di atas kapal laut selain kapal induk. “Di pertemuan rutin ini, setiap permasalahan akan dicarikan pemecahan dan dibuatkan prosedur untuk mengatasinya. Ini demi mencegah kesalahan serupa di masa datang,” ujar Letkol Tohir.

Untuk itu baik penerbang maupun perwira operasi yang bertugas di HCR memang bisa saja menolak pendaratan atau lepas landas jika kondisi atau keadaan memang tidak memungkinkan. Tak peduli bahwa yang helikopter tersebut sedang mengangkut helikopter atau logistik yang amat penting. 

Sekilas LPD

Kemajuan teknologi dan meningkatnya kebutuhan akan peralatan tempur yang mumpuni telah mendorong berbagai pabrikan untuk menciptakan alat utama sistem senjata yang tepat sesuai kebutuhan customer, tak terkecuali untuk kapal-kapal pendarat pasukan. Landing Platform Dock adalah salah satu alat utama yang terus-menerus diperbaharui rancangannya oleh sebab kebutuhan tersebut. Seperti dituntut petinggi Angkatan Laut AS, kini sebuah LPD baru bisa dikatakan layak jika mampu mengangkut sekaligus enam sampai tujuh Landing Craft Air Cushion dan bisa mendukung operasi Expenditionary Strike Group.


Kebutuhan masa kini dan masa datang juga menuntut LPD  bisa didarati helikopter sehingga harus memiliki geladak atau deck yang layak dan bersertifikasi. Dengan demikian, selain sangat layak difungsikan kapal transpor untuk para marinir, LPD juga bisa dimanfaatkan sebagai kapal markas dan pangkalan operasional di tengah laut. Dan untuk alasan tertentu, kapal ini juga harus bisa dikerahkan untuk misi pertolongan ke daerah bencana.

Oleh karena spektrum fungsi yang luas, berbagai negara pun antusias membeli LPD. Bahkan sampai ada yang sampai memesan menurut kebutuhan yang spesifik. TNI AL sendiri sejauh ini sudah memiliki lima unit yang sama-sama berasal dari Kelas Makassar. KRI Makassar 590 adalah LPD kedua buatan Daesun Shipbuilding & Engineering Co., Korea Selatan, yang dirancang berdasarkan LPD pertama, KRI Tanjung Dalpele. KRI Tanjung Dalpele selanjutnya berubah nama dan fungsi jadi KRI Dr Suharso, satu-satunya kapal rumah sakit yang dimiliki TNI. LPD ketiga adalah KRI Surabaya. Sementara LPD keempat dan kelima, yakni KRI Banjarmasin 592 dan KRI Banda Aceh 593, tidak lagi dibangun di Korea Selatan tapi di fasilitas PT PAL, Surabaya.

Meski berasal dari satu kelas, dalam beberapa sisi, KRI Surabaya 591 dan KRI Banjarmasin 592 toh memiliki perbedaan. Misalnya, dalam hal luas geladak untuk pendaratan helikopter. Geladak KRI Surabaya lebih kecil dan hanya bisa didarati dua helikopter, sementara geladak KRI Banjarmasin lebih luas dan bisa didarati tiga helikopter. Lebih jauh tentang fisik teknis KRI Surabaya, simak boks spesifikasinya.



Sumber : Angkasa

Siap Terbang Lebih Tinggi, PT DI Berbenah Diri


Bandung - PT Dirgantara Indonesia (DI) melakukan pembenahan diri skala besar untuk menghadapi tantangan bisnis kedirgantaraan kini dan masa depan. Antara lain, melalui program restrukturisasi dan revitalisasi.

“Pasar industri kedirgantaraan semakin kompetitif. DI sebagai industri pesawat terbang kebanggaan bangsa Indonesia harus siap menghadapi tantangan itu agar tetap eksis,” kata I.P. Windu Nugroho, staf senior Divisi Komunikasi DI di Bandung, Selasa (4/12).


PT. Dirgantara Indonesia


PT. DI telah melakukan program restrukturisasi dan revitalisasi baik dalam hal organisasi, keuangan, tenaga kerja, perbaikan sistem informasi teknologi, permesinan, dan lainnya.

Untuk program revitalisasi, katanya, PT. DI dibantu oleh para tenaga ahli dari Airbus Military sebagai mitra bisnis utama saat ini. Sejarah panjang kerjasama PT. DI dan Airbus Military dalam pembuatan dan pengembangan pesawat terbang di Indonesia sejak 1976.

“Dengan semakin meningkatnya kepercayaan Airbus Military terhadap kinerja PT. DI, beberapa bentuk perjanjian baru telah dibuat dan ditandatangani,” kata Windu. Antara lain, Airbus telah memutuskan pemindahan produksi pesawat C295 dari Sevilla di Spanyol ke Bandung.

Program revitalisasi lainnya yaitu pembenahan dengan mengubah sistem IT yang ada. Semula dari sistem Integrated Resources Planning (IRP) menjadi sistem Enterprise Resources Planning (ERP). Sementara tahap implementasi berupa pembersihan data, pengujian sistem SAP serta pelatihan bagi pemakai. 





Sumber : Republika

Moncong Hiu yang Melegenda


Sejarah motif ini sangat panjang. Di Indonesia mulai dikenal menjelang akhir Perang Kemerdekaan ketika Belanda membawa armada P-51D Mustang yang saat itu disebut dengan Cocor Merah. Ada juga yang menyebutnya Mustang Gigi. 

Hiasan ini sangat populer hampir di setiap era ada saja pesawat yang dihiasai dengan motif seperti ini. Tampilanya dari zaman ke zaman nyaris tidak jauh berbeda yaitu bentuk gigi yang menyeringai warna putih dengan ekspresi mata yang sedang marah. Dan jika menggunakan baling-baling pada bagian ujung (cone) hidung pesawat biasanya diberi warna merah.

Kalau diperhatikan pesawat yang menggunakan motif ini adalah keluaran pabrikan dari AS. Padahal Luftwaffe adalah yang pertama kali mengunakannya di tahun 1915 pada pesawat Roland C.II yang dipiloti oleh Oberleutnant Ritter von Schlech. Cuma saat itu motifnya masih bernama Walfisch (ikan paus) dengan bentuk gambar yang belum begitu jelas. Tapi inilah yang menjadi cikal baka dari motif moncong hiu.




Barulah pada saat PD II bergelora motifnya mulai terlihat jelas, yaitu pada Messerschmitt 110 dari 11Gruppe ZG76 Haifisch (ikan hiu) yang menjadi standar dari kesatuan itu dan terlihat juga di beberapa glider tempur Gotha Go 242A. Rupanya motif ini juga disenangi oleh pihak Sekutu terutama Amerika Serikat dimana hampir di semua jenis pesawat kalau tidak dihiasi lukisan wanita seksi ya tentunya moncong hiu itu. Sebut saja seperti pada pesawat P-38 Lightning,P-39D Airacobra, P-51A/B Mustang,dan P-61 Black Widow. Bahkan pesawat-pesawat pembom pun tidak mau ketinggalan seperti A-20 Havoc, B-17 Flying Fortress, B-24 Liberator, B-25 Mitchell, B-26 Marauder, dan A-26 Invader. Rupanya motif gigi hiu ini juga mewabah sampai ke pesawat kecil seperti L-4 Piper Cub dan L-5 Stinson .
Flying Tiger

Motif moncong hiu ini baru benar-benar melegenda saat digunakan oleh  para penerbang yang tergabung dalam AVG (American Volunteer Group) yang bertugas di Burma ketika bertempur melawan Jepang. Ide penggunaan motif ini datang ketika Letjen Claire Chennault ingin membuat insignia yang khas pada tiga skadron pesawat tempurnya yaitu P-40. Untuk memenuhi keinginan pimpinanya beberapa penerbang dengan bantuan seniman lokal mencoba membuat sketsa dari kapur tulis motif gigi hiu pada bagian moncong pesawatnya. Ide ini sebenarnya sudah ada sebelum pimpinan kharismatik itu memintanya dan ternyata sketsa yang diajukan disetujui. Para penerbang ini juga mengakui bahwa ide ini mereka adopsi dari pesawat tempur milik Jerman yang bertempur di atas pulau Kreta.

Dengan tambahan gambar seekor macan bersayap sedang menerkam, sejak saat itu nama pangilan dari AVG dikenal dengan The Flying Tiger. Apalagi setelah majalah Time terbitan 6 Desember 1943 sampulnya membuat ilustrasi wajah sang jenderal dengan latar lukisan macan terbang.

Perang Dunia II usai tapi konflik berlanjut di Semenanjung Korea, rupanya motif ini masih tetap disenangi. Mungkin selain lebih indah pesawat yang dilukis motif moncong hiu ini akan terlihat lebih garang. Selain Mustang yang sudah menggunakan terlebih dahulu, beberapa pesawat jenis jet yang baru pertama kali diterjunkan dalam pertempuran ramai-ramai mengadopsi motif ini seperti F-80C Shooting Star dan F-86 Sabre.

Konflik berlanjut ke Perang Dingin, motif moncong hiu tetap hadir. Peminatnya lumayan banyak, paling tidak di awal konflik saja sejumlah pesawat tempur menggunakannya seperti F-9F Panther, F-11F Tiger, F-86D Sabre Dog, F-89D Scorpion, F-94B Star Fire, dan F-102A Delta Dagger.

Perang Dingin semakin memanas. Dengan dimulainya Perang Vietnam pesawat dibuat semakin canggih dan helikopter mulai digunakan untuk bertempur. Motif moncong hiu masih saja diminati seperti yang terlihat pada pesawat-pesawat F-8H Crusader, F-105D Thunderchief, OV-1C Mohawk, F-4 Phantom, AH-1G Cobra,UH-1B Huey, A-7 Corsair, dan OV-10A Bronco. 

Era Perang Vietnam berlalu, bahkan Perang Dingin pun berakhir. Dunia memang masih menyisakan beberapa perang besar seperti Perang Malvinas dan Perang Teluk, tapi masih ada saja pesawat yang menggunakan motif ini seperti F-14 Tomcat, A-10Thunderbolt, dan F-16C Fighting Falcon yang berpangkalan di Jerman bahkan ada juga pesawat F-15E Strike Eagle yang meggunakan motif moncong hiu walaupun tidak terlalu menonjol.

Di Amerika yang masih setia menggunakan motif ini adalah pesawat A-10 dari 23rd Fighter Group yang berpangkalan di Lanud Macdill, Florida. Belum lama ini memperingati 70 tahun (1942-2011) dari skadron Flying Tiger dengan mengundang para pelakunya yang masih ada.

Di Indonesia motif moncong hiu ini mulai dikenal ketika Belanda membawa pesawat P-51D Mustang sebagai kekuatan tempurnya dan sebagian menggunakan motif moncong hiu. Di sinilah mulai dikenal sebutan Cocor Merah dan Mustang Gigi. Sampai Indonesia menyatakan kemerdekaannya dan memiliki Angkatan Udara sendiri (AURI) dengan modal pesawat-pesawat yang diserahkan oleh Belanda kepada Indonesia. Motif moncong hiu ini masih dipertahankan yang saat itu Mustang tergabung dalam Skadron Udara 3.

Setelah tertidur cukup lama TNI AU kembali menghidupkan motif ini pada pesawat tempur terbarunya yaitu EMB-314 Super Tucano. Legenda Si Cocor Merah diharapkan bisa bangkit lagi di dalam Skadron Udara 21. 



Sumber : Angkasa