Search This Blog

Loading...

Monday, 11 February 2013

Wamenhan : Indonesia Memerlukan Komponen Cadangan Untuk Antisipasi Ancaman Non-Militer


Jakarta - Wakil Menteri Pertahanan Letjen TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan Indonesia memerlukan komponen cadangan untuk mengantisipasi ancaman non-militer yang dihadapi bangsa dan negara yang tidak bisa dilawan dengan persenjataan.

"Komponen cadangan sumber daya manusianya adalah warga negara sipil untuk bela negara tapi bukan wajib militer," kata Sjafrie Sjamsoeddin dalam diskusi Yellow Forum for Young Leader (YFYL) bertema "Urgensi Penguatan Sistem Pertahanan Indonesia" di Jakarta, Senin.

Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Samsoeddin. Foto : Antara.

Menurut dia, wacana komponen cadangan ini perlu disikapi dengan militansi masyarakat untuk menguatkan nasionalisme. Ia mencontohkan, bangsa Indonesia saat ini menghadapi ancaman bahaya narkoba serta penetrasi budaya asing yang memberikan dampak negatif. "Hal ini harus diatasi oleh bangsa Indonesia yang militan. Komponen cadangan ini harus dibaca sebagai kekuatan nasional," katanya.

Ia mencontohkan, Singapura meskipun wilayah geografisnya tidak luas dan jumlah penduduknya tidak banyak, tapi menjadi kuat karena memiliki komponen cadangan yang banyak. Untuk menjadi komponen cadangan, menurut dia, masyarakat Indonesia yang militan perlu diberikan pendidikan untuk kuatkan ketahanan nasional. "Sehingga masyarakat yang menjadi komponen cadangan memiliki kemampuan bela negara," katanya.

Sjafrie menjelaskan, Kementerian Pertahanan saat ini sedang menyusun draf Rancangan Undang-Undang tentang Komponen Cadangan. Hal ini, kata dia, masih menjadi wacana karena terkendala pada anggaran. "Ini jadi tanggung jawab DPR dan pemerintah untuk mengalokasikan anggarannya," katanya.

Sementara itu, anggota Komisi I DPR RI Tantowi Yahya mengatakan keberadaan komponen cadangan di Indonesia adalah sebuah keniscayaan. Menurut dia, dalam situasi alat utama sistem persenjataan (alusista) yang belum kuat serta wilayah geografis Indonesia sebagai negara kepulauan, maka adanya komponen cadangan sangat dimungkinkan.

Tantowi mencontohkan, di Singapura menjadi kuat karena meskipun prajurit militer hanya sekitar 500.000 orang, tapi komponen cadangannya mencapai 5.000.000 orang.



Sumber : Antara

Latihan Bersama Silent Iron 13-1 Resmi Dibuka

Jakarta - Komandan Pasmar-2 Brigadir Jenderal TNI (Mar) Buyung Lalana bertindak selaku inspektur upacara mewakili Komandan Korps Marinir Mayor Jenderal TNI (Mar) A. Faridz Washington pada upacara  pembukaan Latihan bersama (Latma) Silent Iron 13-1 di lapangan tembak pistol Jusman Fuger Kesatrian Marinir Hartono Cilandak, Jakarta Selatan, Senin (11/02) 


Latihan bersama tersebut selain bertujuan untuk mempererat persahabatan juga meningkatkan kerja sama Militer Indonesia dengan Amerika Serikat serta meningkatkan profesionalisme prajurit Denjaka, US Navy Seal dan US Marsoc dalam rangka mendukung tugas pokok satuan.

Dalam amanat Dankormar yang dibacakan oleh Danpasmar-2  menyampaikan, bahwa Negara Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai wilayah laut yang cukup luas serta mempunyai kekayaan alam yang sangat besar di dalamnya dan kondisi ini sangat rentan dari segala bentuk ancaman, baik ancaman potensial maupun faktual, untuk itu diperlukan keberdaaan TNI-AL yang kuat dan professional dalam menghadapi segala bentuk ancaman tersebut.

Pada amanatnya yang lain Dankormar menjelaskan latihan yang akan dilaksanakan mulai tanggal 11 hingga 28 Pebruari 2013 antara Denjaka dengan US Navy Seals ini adalah salah satu bentuk kerja sama pemerintah Indonesia-Amerika dalam bidang militer yang bersandikan Silent Iron 13-1 dimana latihan ini berbeda dengan Latma yang pernah dilaksanakan sebelumnya baik Maritime Counter Terrorism Operastion (Plash Iron 06-03) maupun Plash Iron 07-03, karena pada Latma ini dillaksanakan latihan yang meliputi dua aspek media laut dan darat. 

Hadir dalam acara pembukaan latihan tersebut Para Asisten Kaspasmar-2, Para Dankolak Pasmar-2, Atase US Marine Letkol Avila, Perwakilan Puspenerbal Mayor Laut Rifai dan Perwakilan dari KPLP   Bpk. Fourmansyah.



Sumber : Dispenkormar

Koarmatim Kembali Kirim KRI Diponegoro-365 Untuk Misi Perdamaian di Lebanon


Surabaya - Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) kembali dipercaya untuk mengirimkan salah satu unsurnya yaitu KRI Diponegoro-365 dalam misi perdamaian dunia di Lebanon yang tergabung dalam Satgas Maritim TNI Konga XXVIII-E/UNIFIL 2013. Upacara pembukaan penyiapan Satgas dilaksanakan tadi pagi (11/2) dengan Inspektur Upacara Wakil Asisten Operasi (Waasops) Panglima TNI Laksamana Pertama TNI Widodo di gedung Pusat Latihan Kapal Perang (Puslat Kaprang) Kolatarmatim, Ujung, Surabaya.


KRI Diponegoro-365 dari Satuan Kapal Eskorta Koarmatim untuk kedua kalinya dipercaya mengemban misi mulia ini setelah berhasil dalam misi perdamaian yang sama pada tahun 2009 dalam Satgas Maritim TNI Konga XXVIII-A/UNIFIL. Kemudian dilanjutkan oleh KRI Frans Kaisiepo-368 pada tahun 2010, KRI Sultan Iskandar Muda-367 pada tahun 2011 dan tahun 2012 adalah KRI Sultan Hasanuddin-366 dan baru tiba di tanah air pada bulan Januari yang lalu. Peserta penyiapan Satgas sebanyak 100 prajurit termasuk personel pendukung dari Puspenerbal Juanda (kru helikopter), perwira kesehatan (dokter), perwira Kopaska, perwira intelejen dan perwira penerangan.

Asisten Operasi Panglima TNI dalam amanatnya yang dibacakan Waasops Panglima TNI menyampaikan bahwa penugasan ini merupakan implementasi dari cita-cita bangsa Indonesia untuk ikut serta dalam perdamaian dunia sesuai pembukaan UUD 1945 alinea ke-4 dan telah mendapat dukungan penuh dari lembaga legislatif, Kementerian Luar Negeri dan institusi lainnya yang terkait. Untuk dapat melaksanakan misi perdamaian dengan baik, kata Asops Panglima TNI, perlu dilakukan latihan penyiapan agar dapat memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh PBB.

Sedangkan materi penyiapan meliputi materi umum berupa Core Predeployment Training Materials (CPTM), pemahaman tentang Minimum Use of Force atau penggunan senjata seminimum mungkin sesuai dengan Rules of Engagement (ROE) dan Standard Operating Procedure (SOP) ditambah beberapa materi lain yang relevan guna mendukung kelancaran pelaksanaan tugas, disamping tetap menjaga kesehatan dan kesamaptaan jasmani sehingga tetap prima dalam masa penyiapan maupun saat bertugas di daerah operasi nanti.

Untuk dapat bergabung dalam Satgas Maritim TNI Konga XXVIII-E/UNIFIL para personel Satgas telah lulus dari berbagai materi test yang telah disiapkan oleh Panitia Penyiapan Satgas. Materi test tersebut antara lain test kesapmataan jasmani, test kesehatan umum, kesehatan gigi, kesehatan jiwa, keterampilan komputer dan test bahasa Inggris.



Sumber : Dispenarmatim

Sunday, 10 February 2013

Koarmabar Uji Kesiapan Alutsista dan Personel Dalam Geladi Tugas Tempur


Jakarta - Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Pangarmabar) Laksda TNI Arief Rudianto, S.E.,  secara langsung melihat pelaksanaan manuver lapangan enam unsur KRI Jajaran Koarmabar pada saat berlangsung  manuver taktis di perairan Laut Jawa pada posisi daerah latihan 25 utara kerawang Jawa Barat, dari Anjungan KRI Silas Papare-386.

Latihan geladi Parsial dan Geladi Tugas tempur (Glagaspur) tingkat III yang digelar oleh Komando Armada RI Kawasan Barat ini   dilaksanakan sebagai salah satu tindak lanjut kebijakan dari komando atas khususnya kebijakan di bidang  latihan yang disampaikan pemimpin   pada saat Rapim TNI AL, pekan lalu.


Pada Rapat staf dan Komando Koarmabar,  Pangarmabar menyampaikan arahan kebijakan pimpinan  di bidang latihan antara lain disampaikan   kebijakan latihan yaitu meningkatkan kualitas pelaksanaan latihan pada tiap tingkatan, merencanakan pelaksananaan latihan secara terintegrasi dan komprehensif agar dapat mendukung pelaksanaan latihan gabungan TNI tingkat Divisi pada tahun 2013.

Sejalan dengan hal tersebut Pangarmabar Laksda TNI Arief Rudianto, S.E., pada saat pelaksanaan  rapat staf dan Komando (Rasko)  di Koarmabar  memberikan penekanan  di bidang latihan dan Operasi kepada para pejabat Koarmabar. Penekanan tersebut antara lain  siapkan rencana dan latihan dengan baik mandiri maupun gabungan secara bertingkat dan berlanjut sehingga prajurit memahami fungsi serta tugasnya secara proporsional. Lebih lanjut ditegaskan laksanakan tugas  secara professional dan terukur sesuai dengan koridor hukum untuk tercapainya hasil operasional secara optimal.

Hal tersebut  ditekankan kembali  pada saat pembukaan Latihan Parsial dan Glagaspur Tingkat III,  Pangarmabar Laksda TNI Arief Rudianto, S.E., menekankan agar kegiatan latihan dilaksanakan dengan sebaik baiknya dan berpedoman pada standart operasi prosedur. Selain itu perhatikan dan utamakan keselamatan personel berikut material  yang digunakan sehingga program Zero Accident dapat tercapai.

Untuk melihat kemampuan dan perkembangan para prajurit di lapangan, Pangarmabar Laksda TNI Arief Rudianto, S.E., melihat dan memantau secara langsung jalannya latihan di anjungan   KRI Silas Papare-386 guna mengetahui kesiapan dan kemampuan alut sista  serta tingkat profesionalisme prajurit yang mengawaki unsur  yang terlibat latihan Geladi Parsial.

Dalam kesempatan tersebut, Pangarmabar juga  memberikan arahan kepada Komadan Satfib Koarmabar Kolonel laut (P) Alek Syahril  yang bertindak sebagai Komandan Satuan Tugas Geladi parsial beserta staf latihan   dalam rangka meningkatkan  kemampuan dan profesionalisme prajurit secara proporsional dalam mengawaki unsur KRI.

Kegiatan peninjauan Pangarmabar tesebut, diawali dari pelabuhan Tanjung Priok Jakarta  dengan  pelayaran  ditempuh sekitar 1 jam  dengan  mennggunakan  KRI Kobra-867  berangkat menuju daerah latihan di Laut Jawa.

Selama berada di anjungan kapal jenis patroli cepat KRI Kobra-867, Pangarmabar Laksda TNI Arief Rudianto, S.E., secara langsung melihat kondisi dan situasi kegiatan di sekitar kawasan pelabuhan Tanjung Priok Jakarta dan  kegiatan–kegiatan kapal niaga dan pengguna laut lainnya yang sedang lego jangkar di sekitar alur masuk pelabuhan menunggu penjadwalan kegiatan bongkar-muat dalam mendukung kegiatan perekonomian.

Dalam meninjau latihan  Gelada Parsial, Pangarmabar Laksda TNI Arief Rudianto, S.E., didampingi Komandan Kolat Koarmabar Kolonel laut (P) Yudho Margono dan Komandan Satgas Geladi parsial Kolonel laut (P) Alek Syahrir    on board di Anjungan KRI Silas Papare-386 guna melihat dan mengamati  para personel khsusnya di KRI Silas Papare-386 dan  sekaligus memantau pelaksanaan manuver taktis lima unsur KRI jenis parchim, kapal cepat  FB-57 dan KRI Jenis Frocsh yang terlibat pelaksanaan serial latihan.

Pada saat naik di KRI, lima unsur KRI yang terlibat Latihan Geladi Parsial membentuk formasi melintas satu persatu dimulai, melaksanakan penghormatan kepada Pangarmabar Laksda TNI Arief Rudianto, S.E., diawali dengan KRI produksi dalam negeri jenis Fast patrol Boat (FPB )-57 KRI  Barakuda-633, KRI Todak-631 selanjutnya di ikuti dua KRI jenis perusak kawal tipe parchim KRI Cut Nyak Dien-375 dan KRI Tjiptadi-381 dan terakhir jenis angkut pasukan tipe Frocsh  KRI Celukan Bawang-532.

Selama berada di Anjungan KRI Silas Papare-386, Pangarmabar Laksda TNI Arief Rudianto, S.E., antara lain memantau pelaksaan latihan mulai dari penggunaan jaring komunikasi, kemampuan penguasaan standar  komando KRI, penempatan pos-pos tempur, pos kendali utama maupun pemahaman keselamatan kapal serta  pelaksanaan formasi 6 unsur KRI jajaran Koarmabar.

Pada pelaksanaan latihan serial peran anti bahaya kapal permukaan yang disimulasikan  dilaksanakan  penembakan meriam di KRI, para personel telah menempati pos-pos tempur dalam rangka pelaksanaan penembakan dengan sasaran benda terapung sebagai sasaran penembakan pada jarak kurang lebih 2000 yard.

Namun dengan pertimbangan keamanan bahwa dilokasi daerah latihan dengan radius yang tidak terlalu jauh dari lokasi daerah latihan masih  terdapat kapal-kapal niaga yang sedang melintas  dan para pengguna laut lainnya, selanjutnya pelaksanaan latihan penembakan dengan sasaran terapung hanya berlangsung beberapa saat dan  selanjutnya dilaksanakan  serial latihan dalam bentuk formasi sejajar dengan kecepatan  sama.

Sedangkan pada saat latihan pembekalan di laut, personel yang terlibat dalam serial latihan RAS atau dikenal dengan  pembekalan di laut dilaksnakan oleh  KRI Todak-631 dan KRI Silas Papare-386, dengan sigap dan cekatan para personel menempati pos masin-masing guna melaksanakan  peran pembekalan di laut. Dan selanjutnya unsur KRI yang terlibat latihan geladi parsial membentuk formasi-formasi guna uji coba kesiapan alutsista dan kemampuan personel.



Sumber : Koarmabar

Saturday, 9 February 2013

Alasan Kenapa Militer AS Alihakan Fokus Keamanan ke Asia Pasifik


Jakarta - Dalam kunjungan pertamanya ke Jakarta sebagai Panglima Komando Militer AS di Kawasan Pasifik (PACOM), Laksamana Samuel J. Locklear III menegaskan bahwa posisi Indonesia dan negara-negara lainnya di Asia Pasifik kini makin strategis di tengah perubahan dinamika kekuatan global. Itulah sebabnya AS dalam beberapa tahun terakhir menitikberatkan kepentingan keamanannya di Asia Pasifik. 

Dalam kunjungan selama tiga haari di Indonesia ini, Locklear tidak hanya menemui para petinggi keamanan dan militer setempat. Dia juga merasa perlu menemui para cendekiawan, mahasiswa hingga jurnalis dalam suatu acara di Jakarta, Jumat 8 Februari 2013, untuk menjelaskan pandangannya soal pergeseran fokus keamanan AS ke Asia Pasifik, yang pertama kali diumumkan Presiden Barack Obama pada November 2011.

Panglima Komando Militer AS Kawasan Pasifik, Laksamana Samuel J. Locklear III

Locklear menyebut pergeseran fokus itu sebagai "Perimbangan Kembali (Rebalance) Peran AS di Asia Pasifik." Dia menegaskan perimbangan yang dimaksud bukan bersifat konfrontatif atau untuk menyudutkan negara atau pihak tertentu. "Ini bukan hanya menyangkut militer tapi juga kebijakan, diplomasi, dan perdagangan... Perimbangan ini adalah suatu strategi kolaborasi dan kerjasama," kata Locklear.

Setelah mengakhiri perang di Irak dan Afganistan, AS menggeser fokus kepentingan keamanannya ke kawasan ini. Itulah sebabnya lebih dari setengah kekuatan militer laut AS kini ditugaskan beroperasi di kawasan yang terdiri dari beragam negara itu, termasuk Indonesia. Maka itu, tidaklah heran bila kini Laksamana Locklear memimpin komando gabungan militer terbesar yang dimiliki AS. Wilayah operasi PACOM meliputi Asia Pasifik, Asia Timur, dan Asia Selatan. 

PACOM dibekali seperlima dari total kekuatan militer AS dan akan memimpin 60 persen dari armada Angkatan Laut Amerika. Saat ini, armada militer AS di Pasifik diperkuat oleh lima kapal induk dengan kekuatan pendukung, yaitu 180 kapal, 1.500 pesawat, dan 100.000 personel militer aktif.

Locklear memaparkan betapa pentingnya Asia Pasifik bagi kepentingan keamanan negaranya. "Selama hampir setahun menjabat sebagai panglima, saya makin kagum atas beragamnya kompleksitas di kawasan ini, yang melingkupi lebih dari separuh permukaan Bumi dan lebih dari setengah jumlah populasinya. Kawasan ini punya keragaman yang luar biasa secara sosial, budaya, ekonomi, dan geopolitik," kata Locklear.

Dia pun memaparkan data yang cukup spesifik dalam menegaskan betapa banyak dan beragamnya kekuatan di Asia Pasifik saat ini dan itu menjadi perhatian utama AS. "Kawasan ini punya dua dari tiga ekonomi terbesar di dunia dan tujuh dari 10 negara terkecil di muka bumi," kata Locklear. "Asia Pasifik juga punya negara yang berpenduduk paling banyak di dunia, dan juga negara demokratik terpadat, negara berpenduduk mayoritas Muslim terbanyak, dan republik terkecil," lanjutnya. 

Locklear memaparkan bahwa dari segi bisnis dan perdagangan, Asia Pasifik juga sangat strategis. Kawasan ini "memiliki sembilan dari 10 pelabuhan terbesar di dunia, dan jalur-jalur laut paling sibuk yang menghasilkan lebih dari US$8 triliun dari arus perdagangan dua arah yang melibatkan setengah dari total kargo kontainer dunia dan 70 persen dari kapal-kapal pengangkut bahan energi melintasi lautan Pasifik setiap hari," kata Locklear. 

Di sisi pertahanan dan keamanan, Asia Pasifik dianggap AS sebagai kawasan yang paling banyak diperlengkapi kekuatan militer. "Kawasan ini punya tujuh dari 10 kekuatan militer terbesar. Lalu, angkatan-angkatan laut terbesar dan paling mutakhir berada di Asia Pasifik." 

Selain itu, tidak boleh diabaikan bahwa lima dari negara-negara kekuatan nuklir dunia berada di kawasan ini. "Semua aspek itu, bila dikumpulkan, menghasilkan suatu kompleksitas strategis yang unik," kata Locklear, yang selama kunjungannya ke Jakarta menemui Panglima TNI, Menteri Pertahanan, dan para pejabat tinggi Indonesia lainnya. 

"Jadi, kini ada sebanyak hampir 350 ribu personel militer AS yang berdinas dan tinggal di Asia Pasifik dan bersama mereka juga ada hampir 70 ribu anggota keluarga mereka. Saya tegaskan bahwa Amerika merupakan kekuatan Pasifik. Tidak hanya terletak di Pasifik, namun kami juga punya ikatan sejarah dan ekonomi dengan para negara tetangga sehingga mereka menyadari bahwa kita punya kepentingan yang signifikan sebagai sama-sama negara di Asia Pasifik," kata Locklear.

Locklear menyatakan tidak ambil pusing atas ancaman pengurangan anggaran militer, seperti yang diwanti-wanti oleh Menteri Pertahanan AS, Leon Panetta, baru-baru ini karena anggaran baru belum kunjung disetujui Kongres. Masalah ini, kata dia, tidak saja dialami oleh militer namun juga melanda pos-pos anggaran lainnya di tubuh pemerintah AS.

"Militer kami memang harus mengantisipasi perkembangan itu... Namun, kabar baiknya, Presiden Obama sebelumnya menyatakan bahwa Asia Pasifik menjadi prioritas bagi militer kami di masa depan. Tidak saja militer namun juga kerjasama di bidang-bidang lain. Jadi, saya perkirakan justru akan ada banyak interaksi di kawasan ini," kata Locklear.

Soal China

Sebagai panglima PACOM, Locklear mengungkapkan sejumlah tantangan besar yang harus dihadapi negara-negara Asia Pasifik. Salah satunya adalah perubahan iklim, yang berdampak pada cuaca dan permukaan laut. "Kondisi itu berpengaruh bagi keamanan masa depan banyak negara di kawasan ini sehingga kita harus paham bagaimana menghadapinya," katanya.

Ancaman-ancaman lain dari aktor non negara seperti organisasi ekstremis yang menggunakan kekerasan, organisasi teroris, perdagangan narkoba dan lain-lain, juga terus mendatangkan masalah. Asia Pasifik pun kini masih dihadapkan pada konflik perbatasan dan kepemilikan wilayah. Akses dan kebebasan di wilayah laut dan dunia siber juga dilihat menjadi tantangan yang kian meningkat. Rawannya situasi di Semenanjung Korea pun masih jadi soal. Begitu pula dengan bangkitnya China dan India sebagai kekuatan ekonomi baru. 

Selain itu, tidak seperti aliansi keamanan NATO di kawasan Amerika dan Eropa, tidak ada suatu mekanisme pemerintahan tunggal di Asia Pasifik yang menyediakan suatu kerangka bersama dalam menyelesaikan konflik. "Itulah sebabnya perimbangan kembali posisi AS menjadi penting bagi Asia Pasifik. Ini menjadi dasar bagi banyaknya peluang kerjasama AS dengan para negara mitra di kawasan," kata Locklear. 

Dia juga meluruskan sikap AS atas berkembangnya pengaruh China di Asia Pasifik. Menurut dia, pola hubungan kedua negara itu tidak sedramatis seperti yang digambarkan media massa. AS, bagi Locklear, tidak melihat China sebagai ancaman walaupun saat ini sedang bersitegang dengan negara-negara sekutu AS, seperti Jepang dan Filipina, menyangkut masalah teritori.

Locklear tidak setuju dengan anggapan yang beredar saat ini bahwa AS tengah berupaya "mengurung China untuk membendung pengaruhnya di kawasan". Strategi yang diterapkan Washington, menurut Locklear, adalah justru terus berupaya melibatkan negara komunis itu untuk ikut bertanggung jawab menjaga stabilitas keamanan di Asia Pasifik.

"Kami mengupayakan hubungan yang bertahan lama dengan China, termasuk hubungan militer ke militer. Kami berharap bisa mengesampingkan perbedaan-perbedaan pandangan yang ada dan fokus dalam hubungan yang sama-sama memberi manfaat bersama, seperti memerangi perompakan dan terorisme, melindungi jalur komunikasi laut, kerjasama bantuan kemanusian dan penanggulangan bencana," kata Locklear.

Peran Indonesia

Sebelum datang ke Jakarta, dalam wawancara singkat, Laksamana Locklear menjelaskan bahwa Indonesia termasuk mitra utama bagi AS dalam menjaga stabilitas di Asia Pasifik. Itulah sebabnya dalam kunjungan ke Jakarta, dia juga menegaskan perlunya pengembangan dan penguatan kerjasama keamanan antara AS dan Indonesia.

Salah satu yang jadi prioritas kedua negara adalah kerjasama keamanan maritim. "Ini merupakan salah satu elemen yang penting bagi kedua negara, mengingat Indonesia berada di persimpangan dua lautan besar dan juga di salah satu jalur distribusi yang paling penting di dunia. "Kepemimpinan negara Anda di wilayah ini dan begitu juga dukungan kami atas kepemimpinan negara Anda di kawasan ini akan menjadi kunci untuk bergerak maju," kata Locklear.

Banyak yang telah direncanakan pemerintah kedua negara untuk memperkuat kerjasama itu. "Begitu pula akan banyak latihan bersama dan juga latihan di tingkat multilateral yang makin meningkat," kata Locklear. Dalam kunjungannya di Jakarta, dia mengatakan bahwa kerjasama antarmiliter kedua negara, terutama sejak 2005, juga semakin erat. "Ini juga termasuk pada kerjasama yang dijalin angkatan laut dari kedua negara. Mengingat letak Indonesia sebagai negara kepulauan di persimpangan yang strategis, kami berharap berbagai kerjasama, seperti berbagi informasi soal situasi keamanan di laut, bisa terus dikembangkan," kata Locklear, yang menjadi Panglima PACOM sejak Maret 2012. 

Dalam suatu diskusi beberapa hari sebelum kunjungan Locklear, seorang perwira menengah TNI Angkatan Laut mengungkapkan bahwa Indonesia memegang posisi yang sangat penting bagi banyak negara besar, termasuk AS. "Wilayah kita ibarat pusat gravitasi keamanan maritim. Itulah sebabnya banyak negara yang ingin meningkatkan kerjasama yang lebih baik dengan Indonesia," kata Kolonel Laut Judijanto, perwira dari Sekolah Staf dan Komando TNI Angkatan Laut (Seskoal). 

Kepala Pusat Olah Yudha (War Game Centre) di Seskoal itu mengingatkan Amerika Serikat telah menjalin kemitraan strategis dengan Indonesia, termasuk meliputi sektor keamanan maritim. Beberapa negara lain juga menjalin kemitraan serupa, seperti China, Korea Selatan, dan Jepang. "Bahkan Uni Eropa pun ingin menjalin kerjasama dengan kita. Begitu pula Inggris," kata Judijanto.

Dia pun menunjukkan betapa pentingnya perairan-perairan Indonesia bagi perdagangan dan pelayaran internasional. "Setiap tahun, 63 ribu kapal melintas Selat Malaka; 3.500 di Selat Sunda, dan 3.900 di Selat Lombok." Di Selat Malaka, tonase kapal-kapal dagang yang melintas setiap tahun mencapai 525 juta ton dengan nilai US$390 miliar, di Selat Sunda sebanyak 15 juta ton dengan nilai total US$5 miliar, sedangkan di Selat Lombok sebanyak 140 juta ton senilai US$40 miliar.

Presentasi Judijanto itu mendukung penilaian Duta Besar David Merrill diplomat veteran yang kini memimpin lembaga persahabatan AS-Indonesia, Usindo, yang menjadi penyelenggara diskusi--yang sebelumnya memaparkan bahwa Indonesia memiliki tiga selat kunci bagi perdagangan dan pelayaran global, yaitu Malaka, Sunda, dan Lombok. "Itulah yang membuat Indonesia punya peran esensial dalam mempertahankan keamanan maritim di Asia Pasifik, begitu pula dengan perdagangan dan pelayaran global," kata Merrill. 



Sumber : Viva News

Friday, 8 February 2013

Dislitbangau Berhasil Meneliti, Membuat dan Menguji Coba Parasut untuk Terjun Freefall

Bandung - Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AU (Dislitbangau) berhasil meneliti, membuat dan menguji coba parasut (payung) untuk terjun Freefall. Ujicoba dilaksanakan belum lama ini di Pangkalan TNI AU Suryadarma, Kalijati, Subang dengan menggunakan dua Pesawat Helikopter EC 120 Colibri dari Skadron Udara 7 dan personel Paskhasau dari Wing 3 Paskhas Bandung sebagai penerjun.


Menurut Kolonel Tek Christian Shahmo, Kasubdis Matsus Dislitbangau, selaku Kalakgiat mengatakan pembuatan payung tersebut Dislitbangau bekerjasama dengan PT Langit Biru Parasut Bandung  dan berhasil di uji coba dengan hasil baik dan memuaskan sehingga layak untuk diterbitkan sertifikat uji coba oleh Kadislitbangau, Marsma TNI Edy Yuwono.

Dijelaskan Kolonel Tek Christian uji coba dilakukan sebanyak tiga sorty dengan dua pesawat Helikopter EC 120 Colibri yang diawaki Letkol Pnb Daan Sulfi, Kadisops Lanud Suryadarma, Lettu Pnb  Kadek, Mayor  Pnb Anggit Budi W, Lettu Pnb Trio Agung dan  penerjun dari Wing 3 Paskhas, Pelda Rusli, Serka Petrus, Serka Almustofa (Juru Kamera)  dan Pelda Dwijo sebagai Jump master. 

Sorty Pertama uji coba dilakukan dengan menggunakan dummy seberat 95 kg dan berhasil mengembang dan mendarat dengan baik, akhirnya sorty ke dua dan ketiga dilaksanakan uji coba langsung oleh penerjun dengan sistem HAHO dan HALO dari ketinggian diatas 7000 feet. "Standar parasut baik dan layak untuk digunakan” Kata dua penerjun uji coba Rusli dan Petrus ketika mendarat setelah beberapa menit melayang di udara.

Hadir dalam uji coba tersebut sebagai penilai Kolonel Tek Andi PS, Dislambangjaau, Kolonel Tek Hadi Purnomo dan Kolonel Tek Didik Bangun,  Dislitbangau, Letkol Pnb Agung Nugroho, Sopsau,Letkol Tek Iwan Tahandi, Srenaau dan beberapa Pamen dari Koharmatau, Korpaskhasau, Dispotdirga dan Depohar 70.



Thursday, 7 February 2013

Indonesia Siap Kirimkan Prajurit TNI Sebagai Peace Keeping di Sudan


Mesir - Presidean Susilo Bambang Yudhoyono melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Republik Sudan, Omar Hassan di sela-sela kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) ke-12 di Kairo, Mesir, Rabu (6/2) kemarin. Dalam pertemuan tersebut, Presiden SBY menyampaikan kesiapan batalyon RI untuk membantu menjaga keamanan di wilayah Sudan.

Satgas Maritim TNI Kontingen Garuda XXVIII-C/ UNIFIL Berbaris Sebelum Pelepasan Keberangkatan KRI Sulatn Iskandar Muda -367. Foto : Antara / Widodo S Jusuf
"Dalam pertemuan kemarin saya sampaikan komitmen Indonesia sebagai bagian peace keeping di Sudan. Sekarang ada satu batalyon yang akan kami siapkan untuk memenuhi permintaan PBB untuk menggantikan batalyon Thailand yang katanya sudah selesai dan kembali ke Tanah Air nya," ungkap Presiden SBY kepada wartawan dalam perjalanan udara dari Kairo menuju Jakarta, Kamis (7/2) siang.

Dalam pertemuan bilateral, Presiden SBY juga mendengarkan paparan Presiden Omar Hassan mengenai masa transisi politik yang terjadi di Sudan. Presiden Omar Hassan mengungkapkan soal situasi keamanan Sudan yang belum kondusif dan hubungan dengan Sudan Selatan yang belum stabil. Sebelumnya pada tahun 2012 lalu, sambung SBY, Menteri Luar Negeri Sudan pernah mengunjungi Indonesia. Dalam kunjungan tersebut, Menlu Sudan menuturkan sulitnya upaya rekonsiliasi dengan Sudan Selatan.

Saat itu Menlu Sudan bahkan meminta pandangan Presiden SBY terkait upaya rekonsiliasi yang pernah dialami Indonesia. "Mereka juga menyampaikan tidak mudahnya hubungan untuk rekonsiliasi dengan Sudan Selatan dan bahkan minta pandangan saya waktu Indonesia melakukan rekonsiliasi dengan Timor Leste dan masalah Aceh pada waktu itu. Dengan menjelaskan apa yang dilakukan Indonesia, mereka merasa ada pendamping dan mendapat inspirasi apa yang bisa dilakukan," papar SBY.

Presiden SBY menambahkan, peluang kerja sama ekonomi dengan Sudan sangat besar. Negara di Benua Afrika tersebut kaya dengan minyak dan gas. Presiden SBY mendorong KADIN dan pengusaha Indonesia, serta menteri terkait untuk menjalin kerja sama bisnis dengan Sudan. "Apalagi kita juga negara yang mengirimkan militer dan polisi kita untuk membantu mengatasi gangguan dan ancaman keamanan. Saya kira fair kalau kita juga dapat peluang bisnis dan kerjasama untuk itu," pungkas SBY.



Sumber : Jurnas
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...